Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Bias Seleksi; Bias Kesimpulan

leave a comment »


Beberapa waktu lalu, pak Komar (sebutan saya untuk Komaruddin Hidayat, Rektor UIN) menulis artikel di Koran Sindo (1/5) berjudul Pernikahan Beda Agama. Tesis utama tulisan tersebut: “..memudarnya rumah tangga yang telah dibina belasan tahun, namun semakin hari serasa semakin kering, akibat perbedaan agama.” Untuk menunjukan “kebenaran” tesisnya itu, ia tunjukan beberapa kasus yang datang berkonsultasi kepadanya.

Kasus-kasus yang berkonsultasi kepada pak Komar memperlihatkan bahwa benar adanya pernikahan beda agama menyebabkan memudarnya rumah tangga. Di antaranya, keluarga yang dijalin atas dasae beda agama terasa kering saat masing-masing menjalankan ibadah.

Mislanya, jika suaminya penganut Islam menjalankan umroh, terasa hampa tidak ditemani oleh istri. Dan begitu sebaliknya. Pun, mengenai akan ke mana keyakinan keagamaan sang buah hati. Keributan demi keributan tidak dapat terhindari oleh keluarga yang berbeda keyakinan.

Artikel ini menarik dikaji. Melalui Barbara Geddes dalam artikelnya How the Cases You Choose Affect the Answers You Get: Selection Bias in Comparative Politics, kita bisa menguji coba apakah kesimpulan yang muncul dalam artikel ini berlaku umum atau tidak?

Meski artikel ini bukan studi politik perbandingan, artikel ini bisa diuji coba sebab kesimpulan dalam artikel ini didasarkan pada kasus tertentu. Sementara Geddes mengingatkan kita bahwa selalu ada kemungkinan bias dalam menseleksi kasus untuk memperkuat kesimpulan yang mengakibatkan bias juga dalam kesimpulan.

Menurut Geddes, selama ini tidak sedikit ilmuan politik yang masih terjebak dalam menyeleksi kasus berdasar pada dependent variable (akibat yang ditimbulkan). Model seleksi kasus semacam ini mengabaikan dinamikan dan variasi dari universe of cases yang hendak diteliti. Dinamika dan variasi itu hilang karena kasus yang diangkat hanya dipilih karena ia didasarkan pada dependent varible. Jadi, bias terjadi pada saat kasus dipilih berdasarkan akibat yang ditimbulkan.

Dependent variable dalam artikel ini adalah “memudarnya rumah tangga.” Sementara, “pernikahan beda agama” sebagai independent variable. Kasus yang diangkat adalah memang kasus-kasus yang memperlihatkan bahwa pernihakan beda agama mengakibatkan memudarnya rumah tangga.

Apakah kasus-kasus ini representatif? Jelas tidak. Karena contoh kasus yang dipilih hanya peristiwa yang dialami oleh orang yang berkonsultasi kepada pak Komar. Padahal di luar sana, masih ada puluhan atau ratusan pasangan yang menjalin kasih berbeda keyakinan keagamaan. Artinya, kesimpulan pak Komar tidak bisa mewakili semua pasangan yang menikah beda agama.

Kedua, tulisan ini dengan sendirinya mengandung makna bahwa memudarnya pernikahan karena dilatari beda agama. Makna implisit ini juga bermasalah. Pasalnya, bagaimana menjelaskan orang-orang yang menikah tidak beda agama tetapi dalamnya terjadi kepudaran dan kekeringan rumah tangga setelah belasan tahun dibina? Bukankah bisa jadi ada faktor lain yang menyebabkan pernikahan mereka memudar?

Masalah ekonomi, barangkali. Watak salah satu pasangan yang seringkali melakukan kekerasan dalam rumah tangga, barangkali. Atau faktor lainnya.

Kesimpulan saya, tulisan tersebut tidak bisa digeneralisasi. Karenannya, penjelasan dalam artikel tersebut hanya benar untuk mereka yang konsultasi kepadanya saja (yang bermasalah karena perbedaan keyakinan keagamaan), dan belum tentu terjadi di mana-mana. Kebebanarannya partikular dan relatif.***

Written by Admin

August 5, 2009 at 4:56 am

Posted in Pemikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: