Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Di Kota, Tuhan tak Mendapat Tempat

leave a comment »


Penolakan atas keragaman aliran keagamaan terjadi di kota. Kota, dalam hal ini Jakarta, menjadi tempat yang strategis untuk melakukan aksi penolakan tersebut. Selain pesan aksi akan tersebar luas melalui pemberitaan media, juga mereka berhapar pembubaran dilakukan melalui institusi kenegaraan.

Kalau kita saksikan penghakiman terhadap aliran keagamaan di luar arus utama, selalu terjadi dan bermula dari kota. Isu kesesatan sebuah aliran selalu bermula dari fatwa MUI. Dan MUI bermarkas di Ibu kota. Kenapa kota? ada apa dengan kota? Apa pemeluk agama yang berliran arus utama di desa tidak erganggu dengan aliran di luar arus utama tersebut?

Fenomena kota

Kota adalah ruang di mana sekumpulan manusia beraktivitas bersama. Hal-hal yang semula misterius, sedikit demi sedikit dipecahkan oleh rasionalitas. Keterbatasan rasio justru menjadi pemicu untuk penemuan berikutnya. Temuan-temuan tersebut semua untuk melayani hajat hidup manusia. Kesulitan-kesulitan manusia diselesaikan oleh peralatan yang dihasilkan dari teknologi yang semakin berkembang.

Pada masyarakat modern, kota terkait erat dengan industrialisasi dan kapitalisme. Peralatan yang dibuat untuk melayani kebutuhan manusia tersebut diproduksi dalam jumlah yang besar. Kapitalisme mendapat tempat di hati penghuni kota. Dan kepemilikan individu pun tak terelakan. Untuk itu dibutuhkan institusi negara sebagai lembaga yang menjamin keamanan akan kepemilikan individu. Keberadaan negara diharapkan dapat melayani urusan manusia agar lebih cepat efektif dan efisien.

Efek pola kekotaan semacam itu adalah, meminjam istilah Weber, hilangnya pesona dunia (disenchantment of the world). Tidak ada lagi yang misterius. Segala sesuatu sudah adan akan terus dijawab oleh rasionalitas instrumental. Pola hidup bersama diatur dalam sistem birokrasi yang serba seragam. Bila keluar dari kerangkeng tersebut, berarti melanggar aturan. Berarti keteraturan sedang dilabrak.

Pelan-pelan, meski sekulerisasi tampak ditolak oleh pemuka agama, tapi pola yang dasarkan pada prinsip keseragaman tersebut menyelinap ke dalam cara pandang pemuka agama. Yakni, sikap tidak toleran terhadap kelompok yang berada di luar arus utama. Keberagaman sebagai pesona dunia diseret kepada serba seragam.

Kehilangan pesona dunia di masyarakat perkotaan tak hanya berbentuk sekulerisasi, melainkan juga intoleransi kaum agama akan keberagaman spiritualitas. Pemberangusan perbedaan hendak didesakan melalui lembaga yang bermula dari rasio instrumental: negara.

Berbeda dengan sikap masyarakat kota yang serba merujuk pada rasionalistas instrumental, pedesaan adalah sikap hidup yang memihara pesona dunia. Apa yang misterius tak selamanya dapat siselesaikan oleh rasio instrumental. Apa yang misterius dijaga agar Tuhan tidak murka. Mereka sadar bahwa yang misterius atau yang ghaib berada di luar jangkauan manusia. Karenanya, hal ihwal yang terkait dengan spiritualitas diserahkan sepenuhnya pada Tuhan. Keterbatasan rasionalitas disadari seraya disadari kehadiran kekuatan ghaib tersebut.

Berlaku adil

Oleh karenannya, tak heran manakala pemberangusan atas perbedaan dan keberagaman bermula dari kota. Aksi-aksi entah penyerangan atas fisik maupun psikologis aliran minoritas Islam biasaya bermula dari fatwa MUI. Fatwa tersebut kemudian tersebar luas melalui akses media massa. Ketersebaran fatwa itulah yang memulai orang berpikir bahwa kesesatan harus enyah dari rumah Indonesia. Kekerasan atas aliran minoritas Islam muncul di mana-mana.

Mereka berpikir bahwa untuk menyelesaikan penyimpangan ini harus dilakukan melalui institusi negara. Melalui peraturan yang dibuat oleh kerangka rasionalitas. Dan karena itulah aksi-aksi menuntut pembubaran Ahmadiyah dan aliran Islam lainnya terjadi di Jakarta, di Ibu kota.

Bila kita berjarak sejenak dari fenomena pemberangusan aliran Islam di luar arus utama, kita akan mendapati sesuatu tidak pada tempatnya. Aliran-aliran yang dituntut oleh MUI, FUI, FPI dan semacamnya adalah mereka yang berbeda pada pada tataran teologis. Mereka berbeda keyakinan. Keyakinan di luar apa yang diimani oleh kelompok arus utama. Perbedaan ini berada di ranah hati. Perbedaana yang hanya Tuhan yang bisa menghakimi.

Sementara, kelompok arus utama di perkotaan menuntut mereka bubar melalui lembaga negara. Bukankah ini model permintaan yang salah alamat. Alamat yang seharusnya ditujukan kepada Tuhan yang mengatur bagaimana hati manusia, malah diajukan di depan istana Merdeka seraya menuntut Keppres.

Aksi ini menunjuka bahwa kaum agamwan di kota lebih percaya pada isntitusi yang dibentuk oleh rasio instrumental untuk merubah keyakinan seseorang. Mereka berpikir bahwa dengan menghanguskan Ahmadiyah dan aliran lainnya dari administrasi negara dan tidak diakui oleh negara berarti akan merubah pula keyakinan. Inilah kesalahan terbesar pemimpin agama di perkotaan. mereka menyerahkan wewenang Tuhan kepada lembaga yang diciptakan untuk keteraturan sosial belaka.

Barangkali mereka lupa cerita terkenal dalam Islam ketika paman dekat Nabi Muhammad, Abu Thalib dalam keadaan menjelang kematiannya. Nabi meminta kepada Tuhan agar memberi memberi ia mau masuk Islam terlebih dahulu. Firman Tuha turun: “sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk (hidayah) pada orang yang kamu cintai, melainkan Allah yang memberi petunjuk (hidayah) orang yang Ia kehendaki”. Inilah model keberagamaan “desa” yang menyerahkan penilaian keyakinan manusia kepada Tuhan.

 Di kota, adakah ruang untuk Tuhan?***

Written by Admin

August 5, 2009 at 5:07 am

Posted in Kolom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: