Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Kala Waratawan Berdusta

leave a comment »


Shattered Glass berbicara tentang wartawan malas. Film yang diracik oleh Billy Ray ini memangi sekitar 10 dan 17 kali menjadi nominator di berbagai ajang festival film, termasuk Golden Globe tahun 2004.

Film ini berangkat dari kisah nyata. Stephen Glass (Hayden Cristensen) seorang penulis berbakat dari Washington D.C. Di usia 20 tahun, ia menjadi penulis tetap di “The New Republic” (1995-1998). The New Republic adalah majalah yang dibaca oleh awak pesawat kepresidenan. Presiden Amerika mesti membaca artikel-artikel majalah tersebut.

Setiap kali rapat redaksi, ia selalu memukau. Glass mempresentasikan rencana tulisan di depan semua awak redaksi. Dan, semua tampak puas dengan temuan-temuan Glass di lapangan. Ia selalu mendapat sisi lain dari peristiwa yang dia tulis. Setiap kali menulis, sumber berita sudah ia catat terlebih dahulu. Catatan-catatan itulah yang kemudian menjadi sumber dari fakta yang ia angkat dalam tulisannya.

Glass adalah manusia langka. Ia penulis handal. Sangat meyakinkan. Sayang, ia pemalas. Ia enggan langsung berhadapan dengan peristiwa lebih dekat. Catatan yang menjadi sumber tulisannya adalah fiktif. Ia merekayasa peristiwa dengan bumbu-bumbu menarik yang itu hanya fakta di dalam dunia khayalnya. Fakta-fakta yang tertuang dalam catatannya itu adalah rekayasa belaka.

Hingga nomor 26, Glass berhasil mengelabui awak redaksi. Demikian juga dengan publik. Dan, selama ia menulis dengan segala kebohongannya itu, Glass tak merasa bersalah. Selalu jika ada komplain dan dipanggil oleh pimpinan redaksi, Michael Kelly (Hank Azaria), ia berkata “apa Anda marah sama saya?” Kata-kata ini sungguh menjadi manjur untuk menampakan diri sebagai korban. Dan, lalu senjata saktinya muncul: catatan. Urusan selesai.

Pada tulisan ke-27, Glass menulis tentang seorang hacker. Tulisan yang memikat. Betapa tidak, ia mendapatkan peristiowa yang jaranag sekali. Seorang hacker yang konfrensi pers tentang kegiatannya. Dan disambut gembira oleh perkumpulan hacker di Amerika.

Sungguh peristiwa yang mengusik Adam Penemberg (Stave Zahn) seorang pengelola majalah Forbes yang berbasis website. Bisa-bisanya, the New Republik mengetahui kejaidan yang majalah berbasis wabsite tidak tahu. Usut punya usut, semua aktor yang ada dalam tulisan Glass tidak ada datanya. Entah alamat website, telepon rumah, dll.

Glass pun mendapat masalah di sini. sayang, kali ini pemimpin redaksi sudah beralih tangan ke Charles lane (Peter Sarsgaard) yang tak mudah dibujuk oleh pertanyaan Glass “apa Anda marah kepada saya?” Lane juga tak langsung percaya pada catatan tangan Glass. Karena ia sadar, Glass adalah penulis berbakat. Ia ingin membantu dengan membuktikan kepada semua bahwa tuduhan Glass memalsukan itu fitna. Ia kamuadian mengajak Glass membuktikan peristiwa it benar-benar terjadi.

***

Secara teknis, film ini saya suka. Meskipun lambat, kita dibuat berpikir siapa yang salah dalam perbuatan nista wartawan seperti ini. Glass sendiriankah, atau semua awak yang sudah meloloskan tulisan ke publik? Mengikuti prinsip dasar film, make believe, film ini berhasil. Masing-masing aktor memerankan perannya cukup meyakinkan. Ditambah lagi film ini memperlihatkan bagaimana redakti media massa bekerja.

Film ini menyodorkan renungan bahwa ada kemungkinan wartawan berbohong. Anda bayangkan, info yang kita konsumsi sehari-hari masih mungkin hasi rekayasa. Saya teringat berita di detik.com tentang sepasang kekasih yang meninggal di dalam mobil. Detik.com memberitakan peristiwa tersebut “Sejoli Tewas Telanjang Sambil Berpelukan di Ancol”. Padahal, di lapangan keduanya meninggal dalam kondisi berpakaian lengkap.

Untuk itu, pesan film ini cukup jelas bahwa bukan hanya wartawa yang harus dekat dengan fakta, kita pembaca juga disadarkan betapa tidak baik mudah percaya pada media. Kepercayaan pada media bisa dilakukan jika kita mendapat berita serupa untuk bahan perbandingan. Jika sebuah peristiwa dilihat dari satu sudat saja, terjadi bias bahkan kebohongan publik.

Untuk itu pula sekarang ini dikenal citizen journalism (jurnalisme masyarakat). Citizen journalism adalah segala informasi yang datang dari masyarakat umum bisa dijadikan basis berita asalkan bukti-bukti faktualnya bisa dipertanggungjwabkan. Mislanya, kita sering melihat kamera amatir tentang suatu peritistiwa. Inilah model citizen journalism. Terlebih teknologi semakin canggih dan memudahkan kita merekam apa yang terjadi disekeliling kita.

Kecanggihan teknologi yang tersebar di masyarakat diharapkan dapat mengurangi tingkat kebohongan wartawan dalam meliput kejadian. Meski begitu, setan taat akan janjinya bahwa ia akan tetap menjadi penggoda manusia. Terkadang setan berbisik bahwa membohongi musuh itu boleh. Demi ideologi dan aliran keagamaan, media terkadang tak ragu untuk memelintir peristiwa dan keluar dari fakta.

Film tetap film. Meski berangkat dari kenyataan, unsur fiksi tak terelakan. Tapi, unsur kefiksian tak mengurangi bahwa kita bisa belajar dari film-film berkualitas. Entah kualitas mengelola film menjadi menarik bagi mata kita, atau kualitas pesan yang menginspirasi kta semua. Shattered Glass memenuhi kedua unsur tadi: berkualitas cara dan isi. Selamat menonton!! ***

Written by Admin

August 5, 2009 at 7:18 am

Posted in Pemikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: