Surat


Melalui surat ini, a titipkan detik pagi dalam gumam mentari. Tak banyak yang ingin a ungkap, hanya setetes embun pohon jati yang tumbang senja lalu. Tak henti-hentinya a rasakan  rintik hujan menampar patahannya.

Surat ini sebagai tanda bukti kasih sayang pengemis pada anaknya. Anak malang yang terpenjara di hutan tak bertuan. Maukah kau menjadi anak panah arjuna yang menembus jantung waktunya?

Sekian surat ngaco ini. Semoga matahari masih muncul di timur dan kembali ke timur. Menatapmu di lorong waktu yang hampir pagi.

Advertisements

Author: Admin

Peneliti Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, Jakarta. Graduate Student Center for Religious and cross-Cultural Studies (CRCS), UGM. Beberapa hasil risetnya terbit dalam “Kontroversi Gereja di Jakarta” (2011) dan “Pemolisian Konflik Keagamaan di Indonesia” (2014).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s