Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Debat Sekularisasi belum Usai

leave a comment »


Para ilmuan memprediksi bahwa kita memasuki zaman sekular. Zaman tersebut ditandai dengan hilangnya pesona dunia: seluruh aktivitas dan gejala alam dapt diatas oleh ilmu dan teknologi. Karenanya, masyarakat sukular tidak lagi memandang agama penting dalam kehidupnnya

Fakta menunjukan fenomena sebaliknya: gerakan New Age di Amerika Serikat, gerakan fundamentalisme agama merebak di berbagai negara dan agama, terorisme yang berdalih argumen keagamaan, dan tuntuan khilafah islamiyah dari kelompok Hizbut Tahrir, misalnya, tidak surut di beberapa negara mayoritas muslim, termasuk Idonesia. Prediksi para sosiolog tentang sekularisasi, gagal.

Fakta-fakta ini pula yang membuat Peter L Berger merevisi tesisnya bahwa tidak ada lonceng keatian bagi agama di zaman post industri.

Apakah teori sekularisasi lama salah dan gagal menjelaskan fenomena masyarakat dunia? Kenapa gagal? Apakah perdebatan mengenai sekularisasi telah usai? Selain fakta yang menunjkan kegagalan sekularisasi, tapi di lain tempat ada juga data yang menujukan terjadi sekularisasi khususnya di Eropa Barat. Bagaimana menjelaskan ragam data semacam ini? Adakah teori alternatif untuk menjelaskan fenomena dunia tersebut?

Ada, jawab Inglehart dan Norris.

Teori sekularisasi lama bisa dikelompokan menjadi dua: teori sekularisasi klasik (TSK) dan teori pasar. Inglehart dan Norris menyebut teori ini sebagai demand side. Yakni, sekularisasi akibat tidak ada lagi kebutuhan masyarakat terhadap agama.

Durkhemian: sekularisasi terjadi karena struktur masyarakat semakin terdiferensiasi. Semakin prenata moderen berkebang semakin seklar masyarakat. Jika dulu sakit datang ke dukun atau ajengan, kini berbondong-bondong ke puskesmas atau rumah sakit. Jika dulu ritual keagamaan menjadi perekat sosial, kini arisan yang duniawi belaka mengikat hubungan sosial.

(KRITIK. Bagi Norris dan Inglehart, teori ini tidak bisa menjelaskan semua genomen di seluruh dunia. Tidak sedikit kepercayaan kepada dokter sekaligus juga datang ke dukun sebagai alernatif. Tidak jarang pula arisan di Mekkah sekalian menjalankan kewajiban agama, ibadah haji.)

Weberian: sekularisasi terjadi karena rasionalitas. Semakin rasional masyarakat semakin sekular ia. Dan sebaliknya. Masyarakata moderen menunjka pencapaian yang luar biasa, khususnya pasca revolusi industri di Inggris. Ilmu pengetahuan dan teknologi memudarkan pesona dunia. Rasionalitas menggantikan argumen agama menjelaskan misteri alam semesta.

(KRITIK. Inglehart dan Norris mengingatkan bahwa teori ini  juga gagal sebab tidak sedikit scientist di satu pihak dan sangat religius di lain pihak. Ilmu pengetahuan saja tidak cukup menjelaskan sekularisasi)

Kedua, teori pasar. Norris dan Inglehart menyebut teori ini sebagai supply side. Seklarisasi terjadi akibat kemandekan pemuka agama dalam menawarkan ajaran agama kepada masyarakat. Semakin mandek, semakin sekular. Semakin kreatif dan kompetitif, semakin masyarakat meminati dan mengerumuni rumah tuhan. Di negara bekas Uni Soviet, di mana terapat satu agama resmi negara, masyarakat semakin sekular karena pemuka agama malas. Sementara di Amerika, kompetisi agama terjadi dan hasilnya agama diminat banyak orang.

(KRITIK. Teori ini, bagi Norris dan Inglehart, gagal. Sebab di negara-negara Eropa Barat yang notabene kompetisi pemuka agama terjadi, sekularisasi tidak bisa dihindari.)

Inglehart dan Norris memilih mempertahankan demand side untuk menjelaskan sekularisasi. Teori lama kelihatan gagal karena tidak bisa dipakai untuk melihat dinamika. Sekularisasi mengambil bentuk dan tingkatan berbeda-beda. Menggarap dinamika di berbagai negara inilah terobosan baru Norris dan Inglehart setelah meninjau kembali teori lama.

Untuk menjelaskan dinamika tersebut, Inglehart dan Norris membandingkan kadar religiusitas sekularisasai di 80 masyarakat di dunia. Mereka menggunakan hasil survey World Value Survey (WVS) 1981-2001 dan survey lain seperti Europabarometer, Gollup dan survey internasional sebagaio pembanding.

Selain surey relgiusitas, mereka memanfaatkan data demografi di seluruh dunia. Sebab mereka meyakini bahwa sekularisasi ada kaitannya dengan tingkat keamanan eksistensial yang wujudnya adalah kesejahteraan masyakat. Semakin sejahtera, semakin rasa aman terpenuhi. Semakin aman, semakin sekular.

Untuk mengukur seberapa religus atau sekular, WVS melihat dari tiga segi:

  • Partisipasi keagamaan. Sebarapa sering menghadiri layanan keagamaan?
  • Nilai-nilai keagamaan. Seberapa penting Tuhan dalam kehidupan Anda? Seberapa penting agama dalam kehidupan Anda?
  • Keyakinan-keyakinan keagamaan. Apakah Anda percaya pada surga/neraka, kehidupan setelah mati, jiwa?

Cara melihat dinamika sekularisasai di berbagai negara, mereka membandingkan kadar religiusitas antar negara. Mereka mengelompokkan negara ke dalam tiga jenis: agraris, industri dan post industri. Pada masing-masing jenis negara, kadar sekularisasinya juga berbeda beda Swedia dan Amerika berbeda, da di sinilah letak keraguan orang bahwa sekularisasi gagal. Sementara untuk melihat keberhasilan dan kegegalan sekulaisasi, mereka membandingkan di tiga jenis negara tesebut antar generasi. Demikian juga mereka melihat aspek demografi.

Selain antar negara, mereka juga melihat dinamika sekularisasi antar budaya. Faktor budaya juga penting dengan asumsi bahwa betatapun sekular, orang tidak dapa lepas dari budayanya.

Inglehart dan Norris menyimpulkan bahwa publik dari hampir semua negara industri maju bergerak ke orientasi lebih sekuler 50 tahu terakhir. Meski begitu, secara keseluruhan, di dunia sekarang ini terdapat lebih banyak orang dengan pandangan keagamaan tradisonal di banding sebelumnya—dan mereka bagian dari populasi dunia yang terus bertambah.

Terlihat kontradiktif. Tetapi jika menyelami buku ini lebih detail, Anda akan mengerti kenapa kesimpulan mereka demikian. Oleh karena itu buku ini layak Anda baca.

Catatan

Menurut saya, Inglehart dan Norris adalah dua ilmuan yang memberi cukup banyak masukan bagi kita cara meneliti yang baik. Pelajaran yang bisa ditangkap adalah, untuk menemukan pola umum, atau teori, hanya bisa dilakukan dengan cara membadingkan antar negara dan antar generasi. Kecenderungan umum terjadi dalam dimensi ruang dan waktu. Cara tersebut memberi terobosan baru untuk menjelaskan sekularisasi yang terjadi di dunia kini.

Jadi diskusi mengenai sekularisasi, bedasarkan data yang disuguhkan oleh Inglehart dan Norris banr-benar belum usai. Alih-alih usai, sekularisasi semakin “panas” seiring dengan fakta bahwa di tengan industrialisasi yang mendorong sekularisasi, wajah dunia semakin religius.

Buku ini sepenuhnya kuantitatif. Jika Anda mengingkan cerita “hidup” layakanya antropolog menulis, beri tanda kurung keinginan Anda tersebut. Buku ini bukan bacaan jelang tidur, tapi hamparan bukti tentang kecenderungan masyarakat dunia dewasan ini.***

Written by Admin

November 20, 2009 at 7:16 am

Posted in Kolom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: