Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Menuju Masyarakat Sekular

with 2 comments


Dalam pidatonya 40 tahun lalu, Cak Nur memilih pembaharuan dengan resiko integrasi umat terguncang ketimbang mempertahankan integrasi umat dalam keadaan statis (jumud). Ia berargumen bahwa “Kelumpuhan umat Islam akhir-akhir ini antara lain disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka cukup rapat menutup mata dari cacat-cacat yang menempel pada tubuhnya yang mengharuskan adanya gerakan pembaruan ide-ide guna dapat menghilangkannya.”

40 tahun berlalu. Cak Nur telah tiada. Tapi, masihkah semangat dan ide dalam pidato yang pada masanya amat kontroversial ini relevan dengan kondisi saat ini?

***

Bahtiar Effendy, dalam bukunya Islam dan Negara: Transformasi Gagasan dan Praktik Politik Islam di Indonesia, dengan baik mendeskripsikan apa sebenarnya konteks di balik pemikiran Cak Nur, termasuk pidatonya ini. Bagi Bahtiar, kegelisahan Cak Nur saat itu lantaran hubungan antara agama dan negara saling curiga. Terobosan pemikiran yang liberatif mencairkan suasana tegang antara pemerintah dan kelompok Islam.

Kini, jelas Bahtir kemudian, ketegangan tersebut sudah mencair. Demokrasi, dengan segala pernih politik akomodatifnya, telah diterima luas oleh ummat Islam. Demikian juga, pemerintahan demokratis pasca reformasi tidak lagi memandang dengan mata curiga atas gerakan Islam kontemporer. Kalau begitu, masihkah relevan?

Lebih jauh, Ihsan Ali-Fauzi dalam artikelnya “Artikulasi Pembaharuan Nurcholish Madjid: Kekuatan dan Batas-batasnya” menganalisis bahwa gagasan pembaharuan Cak Nur memliki kekuatan yang “dekat tetapi tidak melekat dengan konteks terdekatnya.”

Namun demikian, gagasan pembaharuan Cak Nur memiliki keterbatasan seiring perubahana konteks sosial, ekonomi dan politik saat ini. Bagi Ihsan, salah satu perubahan itu akibat dua faktor utama, keadaan “ekonomi yang belum juga recover” dan pemerintahan yang “lembek sehingga tidak bisa memerintah dengan benar.” Dua faktor ini membuat umat Islam lebih memilih artikulasi Islam yang praktis seperti “Islam is the solution.”

Karenanya, Cak Nur adalah produk zaman. Atas realitas di sekitarnya ia mencari ilham dan mengartikulasikannya sebagai terobosan kemandekan Islam yang, bagi Cak Nur, pada dasarnya dinamis.

***

Tiga gagasan penting dalam pidato 40 tahun lalu adalah sekularisasi, liberalisasi dan keterbukaan umat. pertama-tama, titik tembak sekulrisasi Cak Nur adalah konsep tauhid di kalangan umat Islam yang “tidak sanggup lagi membedakan di antara nilai-nilai yang disangkanya Islamis itu mana yang transendental dan mana yang temporal.” Dengan demikian, di luar Tuhan, baik nilai-nilai buah pemikiran maupun benda, temporer.

Hingga kini masih kita temukan sebagian umat Islam masih memandang bahwa ajaran Islam telah sempurna dan tidak lekang di makan zaman. Pandangan ini bisa kita lihat dengan kewenangan lembaga semi negara semacam MUI yang memfatwa sesat aliran semacam Ahmadiyah. Bukankah memutlakkan tafsir sama dengan memutlakkan gagasan di luar Tuhan, dan ini berarti musyrik. Pemutlakan tersebut bukan saja terrepresentasi dalam fatwa, bahkan tindak kekerasan terhadap siapa saja yang dianggap sesat. Fakta ini bukti bahwa kejumudan masih membayangi kehidupan beragama umat Islam indonesia.

Adalah fakta bahwa umat Islam Indonesia hari-hari ini tidak bisa santai menghadapi hal-hal yang aneh terjadi di sekitarnya. Khususnya, keanehan lantaran tafsir agama. Memang wajar belaka bersikap reaktif atas hal-hal baru. Tetapi, seringkali kegagapan atas keanehan itu mereka luapkan menjadi perilaku kekerasan. Contoh terdekat adalah apa yang seringkali disebut sebagai aliran sesat.

MUI, dalam rakernas tahun 2007 merumuskan 10 kriteria aliran sesat. Salah satunya adalah melakukan tafsir al-Quran tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir. Kriteria ini amat lentur sehingga sekelompok orang memasukan tafsiran yang tidak mereka sukai menjadi sesat. Barangkali kriteria inilah yang membuat organisasi NU dan Muhammadiyah mengeksklusi pemikir muda yang diangap nyeleneh. Akhir-akhir ini Konsekuensi dianggap sesat amat fatal: mendapat perlakuan buruk.

Dalam situasi seperti ini pula, Cak Nur menyerukan bahwa berislam berarti terbuka atas berbagai buah pikiran, betapapun anehnya. Sebab, bagi Cak Nur, jangan-jangan yang aneh itu suatu hari terbukti sebagai gagasan yang benar adanya. Pemikiran apapun layak mendapat ruang dalam arena sejarah Islam. Dengan demikian, pertarungan pemikiran akan melahirkan gagasan-gagasan cemerlanag dan produktif. Begitu juga gagasan-gagasan sampah lama-lama akan tersingkir dengan sendirinya. Bagaimana kemajuan akan kita raih jika ruang ekspresi dan pikiran ditutup sedemikian rupa?

***

Sejak rezim Orde Baru tumbang, peta politik Indonesia berubah dalam 10 tahun terakhir. Demokrasi, selain membuka kebebasan warga negara berekspresi dan partisipasi politik, juga menimbulkan masalah baru. Kini, para politisi mempertahankan kekuasaannya dengan mengabdikan diri kepada pemilih melalui pencitraan. Mengedepankan kuantitas daripada kualitas, jumlah dari isi.

Akibatnya, pemerintah berulangkali melahirkan peraturan yang kental dengan tampilan aliran keagamaan agama tertentu untuk mendapat dukungan luas. Mislanya, atas nama otonomi daerah, lahir peraturan daerah (perda) yang dasarnya adalah ajaran agama tertentu. Perda, yang kemudian dilekatkan dengan syariah dan injili ini mengulang sejarah kelam umat Islam dan kristen yang menempatkan aliran tertentu sebagai ajaran resmi negara. Ajaran resmi, dalam sejarahnya, telah menelan korban akibat perbedaan pandangan dengan ajaran resmi.

Demikian juga dengan fakta di Indonesia melalaui perda syariah khususnya. Perempuan kristen, sebagaiman dilaporkan Majalah Tempo, terpaksa menggunakan jilbab di sekolah negeri akibat peraturan pewajiban jilbab bagi setiap siswi di Padang.

Perda-perda ini umumnya lahir sebagai cara politisi daerah meraih dukungan dalam kontestasi menjadi pimpinan daerah. Perda-perda yang lahir sejak tahun 2005 muncul dari pemerintah daerah yang dimenangkan partai sekular, bukan partai agama. Demikian juga fakta bahwa Perda bukan sebagai solusi atas diagnosa dan pertimbangan matang. Sungguh ironi, misalnya manakala kita menyaksikan perda yang ditandatangani oleh pimpinan daerah hasil copy-paste dari perda daerah lain.
Alih-alih jadi inspirasi, agama sekedar gincu yang hanya tampil di permukaan.

***

Maka wajar bila gagasan pembaruan Islam a la Cak Nur kemudian menjadi inspirasi bagi perkembangan Islam di Indonesia saat ini. Sekularisasi, liberalisasi dan keterbukaan adalah tiga kata kunci untuk menjawab tantangan Islam di Indonesia kini.

Tiga konsep ini hendaknya menuntun umat Islam Indonesia menuju masyarakat sekular ramah agama. Masyarakat sekular model ini menempatakan urusan dunia pada tempatnya, di mana peran akal amat menentukan dalam merumuskan pranata sosial dan institusi publik.

Di sisi lain, ajaran agama apapun berada di level atas sebagai salah satu sumber inpsirasi. Dengan begitu, meski aturan terinspirasi dari ajaran agama, kita tidak ragu merevisi aturan main itu manakala keluar dari prinsip keadilan dan kemanusiaan.

Oleh karena itu, di sinilah kontribusi gagasan keislaman yang progresif dan membebaskan amat diperlukan. Yakni, gagasan yang mengutamakan maqosid assyariah yang universal ketimbang mendesakkan hukum fikih di ruang publik. Terasa meski tak tampak.[]

Written by Admin

January 18, 2010 at 5:57 am

Posted in Kolom

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ceh ileh….

    Sulaiman Djaya

    April 3, 2010 at 11:21 am

  2. ce ileh juga..apa kabar?

    aceng husni

    April 5, 2010 at 5:19 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: