Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Kekerasan Keagamaan dan Absennya Pemerintah

with 4 comments


Koran Tempo, 22 Januari 2010

Oleh: Husni Mubarak, Peneliti di Yayasan Wakaf Paramadina

Mengawali tahun 2010, kebebasan beragama di Indonesia tercoreng kembali oleh perusakan rumah ibadah di Lampung. Beberapa orang tidak dikenal melempari gereja hingga beberapa kaca pecah. Juga ada peristiwa aliran Surge Eden yang didatangi warga dan diteriaki dengan kata-kata kasar. Sebuah kelompok keagamaan yang lain berhasil memobilisasi masa dan berakhir dengan kekerasan. Umumnya mobilisasi digerakkan oleh segelintir orang. Secara teori harusnya kekerasan bisa diredam. Faktanya, kekerasan keagamaan, khsusunya yang dilakukan oleh kelompok muslim tertentu, berulang terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda. Bagaimana mengelola konflik keagamaan agar tidak sampai menjadi peristiwa kekerasan?

Sebagian aktivis perdamaian dan akademisi menilai bahwa faktor kekerasan keagamaan di Indonesia disebabkan oleh dua faktor. Pertama, kemiskinan dianggap sebagai penyebab utama kekerasan yang terjadi di Indonesia. Jarak antara orang kaya dengan orang miskin semakin menjulang. Situasi sulit ini mendorong warga terlibat dalam aksi-aksi kekerasan. Terlebih jika aksi tersebut didasarkan diri pada doktrin keagamaan.

Argumen lain yang juga sering dijadikan faktor terjadi kekerasan adalah konspirasi. Teori ini meyakini bahwa sekelompok orang mengendalikan aksi-aksi kekerasan keagamaan dari pusat untuk memperkeruh situasi politik sosial negara. Mereka membutakan penglihatan massa dengan suntikan argumen keagamaan untuk melegitimasi aksi kekerasan tersebut.

Argumen kemiskinan sebagai penyebab kekerasan keagamaan, tidak cukup meyakinkan. Betul bahwa kemiskinan di Indonesia cukup besar. Harga-harga kebutuhan pokok terus melonjak. Namun demikian, fakta menunjukan bahwa di beberapa tempat yang bisa dikategorikan wilayah miskin, kekerasan keagamaan tidak terjadi.

Begitu pula dengan teori konspirasi. Argumen ini dibangun atas dasar asumsi dan dugaan belaka. Sebagai argumen dalam kata-kata, teori konspirasi kelihatannya meyakinkan. Namun di lapangan, kekerasan keagamaan umumnya memiliki latar belakang dan aktor yang berbeda-beda dan spesifik.  Aktor-aktor aksi kekerasan keagamaan bukan orang bodoh yang dengan mudah dikendalikan. Dengan latar belakang konflik yang sangat lokal, mereka memilih cara kekerasan untuk menyelesaikannya.

Peran Negara

Julie Chernov Hwang dalam bukunya Peaceful Islamist Mobilization (2009), mengajukan dua variabel kenapa gerakan sekelompok muslim tertentu menggunakan kekerasan atau cara-cara damai mengekspresikan keyakinannya. Pertama, partisipasi politik. Gerakan apapun, akan menyampaikan aspirasinya dengan cara damai, jika negara membuka arena berkompetisi. Kekerasan adalah cara terakhir bagi gerakan sekelompok muslim tertentu, karena arena formal tertutup bagi mereka. Partisipasi politik tersebut harus terinstitusikan. Usulan dan aspirasi gerakan “sekelompok muslim tertentu” akan dipertaruhkan dalam pemilu, lobi politik, koalisi dan sebagainya. Cita-cita ideologi kelompok muslim tertentu bertarung di arena tersebut secara sehat dan di bawah payung hukum formal.

Kedua, kapasitas negara yang efektif. Variabal ini diukur dengan sejauh mana negara menegakkan hukum di wilayahnya dan memberi layanan sosial secara efektif. Jika negara menjalankan hukum yang belaku melalui perangkatnya, polisi, jaksa dan hakim, maka kekerasan dapat diatasi dan gerakan keagamaan tidak berani mengekspresikan dengan cara kekerasan.

Di samping penegakan hukum, pemerintah dapat mengendalikan gerakan sosial, termasuk keagamaan, tidak anarkis dengan memberi pelayanan sosial yang efektif. Kebijakan yang menguntungkan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan, menumbuhkan wibawa pemerintah di hadapan rakyatnya. Sehingga, alih-alih main hakim sendiri, masyarakat percaya bahwa pemerintah dapat mengatasi konflik yang ada.

Membangun Wibawa

Membandingkan antara Indonesia masa Orde Baru dan masa reformasi, Julie menyimpulkan bahwa kini Indonesia merupakan ineffective partisipatory state, yaitu, negara yang secara politik membuka lebar ruang semua elemen masyarakat — kecuali PKI — berkompetisi menentukan kebijakan berdasar ideologi masing-masing. Kehadiran PKS, PPP dan PBB yang secara terang-terangan memperjuangkan syariat Islam dalam dua tiga pemilu terakhir membuktikan partisipasi tersebut.

Namun, di lain pihak, pemerintah Indonesia belum mempu memberi layanan publik yang efektif. Temuan LSI terakhir menunjukan bahwa tren kepercayaan publik terhadap penegakan hukum dan kinerja pemerintah dalam layanan publik menurun. Aparat pemerintah masih lamban menegakkan hukum. Wibawa aparat kian memburuk pasca perseteruan ‘cicak’ vs ‘buaya’. Situasi ini adalah puncak dari wibawa polisi yang mendapat citra “pemalak jalanan”, atau “lembaga negara terkorup”, dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan layanan publik. Pemerintah masih setangah hati. Slogan sekolah gratis belum juga terbukti. Betul bahwa pemerintah menggelontorkan uang untuk dana pendidikan hingga 20 persen, tapi uang pendidikan tidak juga murah. Begitu juga dengan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, adalah wilayah yang masih dipenuhi setengah hati.

Wibawa penegakan hukum yang masih rendah ini memungkinkan gerakan keagamaan menggunakan cara-cara kekerasan dalam mengekpresikan pendapatnya. Dalam konteks ini, perusakan gereja dan penyerangan terhadap aliran Surga Eden di awal tahun memperlihatkan kinerja penegakan hukum yang tidak jalan. Penegak hukum diacuhkan kelompok muslim tertentu, karena ketidak-percayaan.

Evaluasi 100 hari seyogyanya menyentuh masalah-masalah mendasar ini. Sebab, kekerasan atas nama agama bukan kekerasan tiba-tiba. Kekerasan yang mereka lakukan penuh dengan pertimbangan. Semakin negara memberi ruang partisipasi politik dan memberi layanan publik yang efektif, maka kekerasan atas nama agama sulit menjadi pilihan. Jika tidak, sudilah kita hidup layaknya di rimba raya.*

Sumber: Koran Tempo, 22 Januari 2010

Written by Admin

January 22, 2010 at 4:27 am

Posted in Kliping

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Sukselah
    Pokonamah edun euy…
    Sip.

    Ibn Ghifarie

    January 22, 2010 at 6:52 am

  2. Hatur nuhun..

    aceng husni

    January 22, 2010 at 6:55 am

  3. keren ni ^^

    Fifi

    January 26, 2010 at 2:33 am

  4. Thanks fie.. jawaban memang selalu datang dari waktu.

    aceng husni

    January 26, 2010 at 3:10 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: