Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Kebebasan bukan untuk Menghina

leave a comment »


Menggambar adalah perkara seni. Tapi jika menggambar sosok nabi Muhammad, cari perkara namanya. Begitulah kira-kira umpatan sebagian besar ummat Islam sejak beberapa hari lalu, khusunya hari Kamis, 20 Mei 2010. Yakni, hari menggambar nabi Muhammad di Amerika. Tak hanya umpatan, mereka menyerukan boikot facebook, jejering sosial yang menjadi media gambar-gambar nabi Muhammad.

Saya geram. Tapi ada baiknya kegaraman diekspresikan atas dasar infromasi yang, sebisa mungkin, lengkap. Sehingga fenomena menggambar nabi Muhammad dapat dipahami dengan benar dan kita tahu di mana letak kemelut benang kusutnya. Bila tidak, jawaban manis nan agung sudah di depan mata: ah itu konspirasi Yahudi untuk menghancurkan Islam. (sebaiknya kita tunda dulu teori harum ini, agar tahu benar-benar harum atau tipuan belaka).

Saya heran, apa sih yang terjadi? Kenapa menggambar menjadi alat efektif bagi mereka untuk mengekpresikan kebencian kepada umat Islam?

Dua argumen

Hari menggabar nabi Muhammad di gagas oleh Moly Norris, seorang kartunis Woshington, AS. Gerakan ini adalah kali kedua dari agenda sebelumnya bulan April 2010 dengan tema yang sama. Gerakan tersebut merupakan reaksi terhadap Pusat Kartun (Cartoon Center) di Amerika yang menyensor gambar nabi Muhammad dalam film kartun yang dikeluarkan oleh South Park tahun 2006. Pusat Kartun menyensor gambar nabi Muhammad agar terhindar dari reaksi kelompok Islam garis keras sebagaimana yang dialami oleh Theo van Gogh, di Belanda beberapa tahun sebelumnya.

Dua argumen yang mendasari gerakan ini. Pertama, kebebasan berekspresi. South Park sebanarnya sudah mengeluarkan kartun yang bernada sama dan menampilkan gambar nabi Muhammad pada tahun 2001. Namun pada tahun 2006, keputusan sensor Pusat Kartus dianggap sebagai pengekangan atas kebebasan menyatakan pendapat.

Dalam blog yang kemudian menyimpan gambar-gambar tentang nabi, Norris mengutip Voltaire: “Saya barangkali tidak sepakat dengan apa yang Anda katakan, tetapi saya akan mempertahankan sampai mati hak Anda mengatakannya.” Gerakan ini bisa dipahami sebab di Amerika kebebasan menyatakan pendapat adalah prinsip dasar dalam kehidupan sosial. Misalnya, Larry Flyn, penerbit Hustler—majalah dewasa—menang dalam persidangan atas dasar kebebasan menyatakan pendapat terhadap gugatan dewan gereja. Dan masih banyak contoh lain lagi.

Di Amerika, kegiatan menggambar nabi Muhammad juga adalah bagian dari kebebasan berekspresi. Pada level ini gerakan hari menggabar nabi Muhammad bisa dipahami. Tapi yang menjadi soal adalah bahwa objek gambar tersebut adalah orang yang paling suci dalam tradisi Islam. Bukan sekedar gambar, tetapi gambar-gambar hinaan.

Pertanyaan kemudian adalah kenapa gambar nabi Muhammad? Apa latar belakang di balik pilihan gambar nabi Muhammad, bukan Saddam Husein, bukan Raja Fahd, atau lainnya?

Menjawab pertanyaan ini, argumen kedua kiranya bisa menjelaskan: terorisme. Pilihan nabi Muhammad sebagai objek gambar adalah reaksi strategi sebagian warga Amerika terhadap Islam pasca penyerangan 09/11. Sudah menjadi mitos bahwa serangan teroris yang menewaskan lebih dari 5000 orang ini dilimpahkan sepenuhnya kepada agama Islam. Serangan teroris adalah serangan Islam kepada Barat. Begitu kira-kira proposisi mitos tersebut.

Atas dasar mitos tersebut, sebagian warga Amerika mendukung kebijakan Bush menyerang Afganistan dan Irak sebagai bagian dari perang melawan teroris. Juga perlawanan melalui karya-karya seni. Serangan balik yang terakhir ini dengan cara mencabik-cabik bagian terpenting dalam agama Islam: nabi Muhammad. Bukan saja bahwa nabi Muhammad adalah orang terpenting dalam agama Islam, tetapi juga karena menggambar wajahnya merupakan wilayah gelap.

Sebagaimana mitos pada umumnya, mitos Islam sama dengan teroris jauh dari pikiran jernih. Islam sebagai agama tidak bisa terhindar dari penafsiran yang paling moderat sampai paling ekstrem. Pada dasarnya semua agama mengajarkan perdamaian, cinta kasih dan keadilan. Tetapi wujud dan ekspresi dari ketiga prinsip dasar tersebut beragam.

Aksi terorisme tidak bisa disederhanakan begitu saja menjadi Islam. Sebagaimana serangan Bush ke Irak dan Afganistan yang terbukti tidak berdasar, tidak bisa disederhanakan sebagai kesalahan Amerika secara keseluruhan. Bila penyakitnya ada di biji mata, maka obati penyakit yang ada di mata, bukan menusuk jantungnya.

Tidak elok

Dua argumen ini sepintas lalu bisa mudah dimengerti. Namun begitu, ada beberapa catatan yang, menurut saya, aksi menggamabar nabi Muhammad bukan jawaban elok atas kedua argumen tersebut.

Pertama, kebebasan berakspresi sejatinya bukan bebas positif, melainkan bebas negatif. Demikian arti kebebasan menurut Isaiah Berlin. Kebebasan positif berarti bebas untuk melakukan apa saja. Makna terjauh dari jenis kebebasan ini adalah kebebasan menyerang orang atau pihak lain.

Sementara kebebasan negatif berarti bebas dari ancaman orang atau pihak luar dalam menyetakan pendapat. Makna terjauh jenis kebebasan negatif adalah kebebasan terbatas pada merusak atau melukai orang atau pihak lain. Dengan begitu, kebebasan negatif memberi ruang yang amat luas kepada setiap umat manusia menyatakan pendapat yang pada saat yang bersamaan dia memiliki batasnnya sendiri: melanggar kebebasan orang lain.

Melanggar kebebasan orang lain bisa direpresentasikan dalam banyak cara. Kekerasan fisik jelas dan sudah menjadi konvensi internasional merupakan bagian dari tindak kriminal atas nama hak asasi manusia.

Bagaimana dengan kekerasan non-fisik? Di negara-negara Eropa, kekerasan verbal atau bahasa menjadi bagian dari kriminalitas. Oleh karena itu, penghinaan baik lisan mau pun tulisan adalah tindakan kriminal.

Dalam laman facebook dan kemudian ditumpahkan pada blog, gambar-gambar yang muncul tidak jarang menghina nabi Muhammad, orang yang dianggap paling suci dalam agama Islam. Salah satu contoh adalah wajah yang dinamai Muhammad menjadi wajah seekor anjing. Makna yang ingin disampaikan penggambar sangat jelas: menghina nabi Muhammad.

Kebebasan berakspresi tidak bisa menjadi argumen. Sebab dalam mengekspresikan kebebasannya, pada saat yang sama, ia tengah melakukan tindakan kriminal: menghina orang atau kelompok lain. Targetnya bukan nabi Muhammad itu sendiri, tetapi umat yang meyakini eksistensi nabi Muhammad. Kebebasan berakspresi terjamin jika tidak dengan kekerasan fisik maupun non fisik.

Pun argumen kedua, terorisme, tidak bisa menjadi dasar untuk gagasa penghinaan. Kita geram dengan teroris, tetapi langkah teror baru dengan menghina nabi Muhammad bukan langkah bijak. Malah, konsekuensi lebih jauh menimbulkan permusuhan baru dan keluar dari isu terorisme itu sendiri.

Terorisme terdiri dari dua hal: ideologi dan pelaku. Kelemahan utama agrumen kedua untuk hari menggambar nabi adalah simplifikasi: terorisme = Islam. Terorisme bukan Islam itu sendiri, begitu juga Islam bukan terorisme pada dirinya. Terorisme yang beragama Islam adalah segelintir orang yang menafsir Islam dengan caranya sendiri. Mereka sama dengan teroris beragama Nasrani, Yahudi, Hidu Budha, dan teroris tak beragama.

Oleh karena itu, terorisme sebaiknya diletakkan tanggungjawab kejahatannya kepada pelaku. Sebab, pelaku lah yang membuat wajah agama, dalam hal ini Islam, berwajah teroris. Kalau argumennya adalah terorisme, maka hari menggambar nabi lebih elok jika diubah menjadi hari menggambar wajah para teroris.

Biasanya, bila hal-hal sensitif terkait dengan agama dsinggung, pemeluk agama tersebut memilih jalan kekerasan. salah satu bentuk yang umum terjadi adalah sweeping warga asing, atau merusak perusahaan atau swalayan yang pemegang sahamnya dari pihak asing.

Hemat saya, aksi balasan semacam ini sama tidak bijaknya dengan merespons terorisme dengan mennghina nabi Muhammad melalui gambar. Sebab, menggabar nabi Muhammad dengan segala penghinaannya hanya dilakukan oleh segelintir orang.

Maka jalan terbaik untuk kasus Moly Norris adalah meminta kepada kedutaan Amerika untuk menghentian aksi menggamabar nabi Muhammad yang mengandung unsur penghinaan. Sebab, penghinaan tersebut sejatinya ditujukan pada umat Islam. Kita harus buktikan bahwa class of civilization Samuel Huntington tidak benar dan hanya dugaan ilmu sosial belaka.

Written by Admin

May 31, 2010 at 9:35 am

Posted in Kolom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: