Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Dunia Maya, Dunia Ariel

leave a comment »


Tiada hari paling memuakkan selain hari ini. Berkunjung ke detik.com, berita pertama yang muncul tentang kelanjutan isu video mirip Ariel. Apa tidak ada berita lain yang lebih bermanfaat untuk kita selain kelanjutan kisah Ariel? Apa ruginya bagi kita berita perkembangan kasus yang tengah menimpa pelantun lagu ‘Tak ada yang Abadi’ itu?

Barangkali soalnya bukan soal manfaat dan rugi. Babak berita antara Ariel, Luna, dan Cut Tari bukan lagi soal pribadi mereka. Ariel seluruh komponennya sudah menjadi komoditas dunia maya. Kata Ariel, Luna dan Cut Tari, juga artis-artis lain yang diburu beritanya, tidak lagi mewakili diri mereka sendiri. Mereka hanya bermakna sejauh diungkapkan dalam bahasa dunia maya. Sederhananya, perihal Ariel dan kawan-kawannya mencerminkan emosi dan sensasi dunia maya.

Jadi siapa dunia maya. Dunia maya, ya kita. Saya dan anda yang memanfaatkan ruang yang seolah-olah nampak menancapkan makna. Saya, melalui tulisan ini, adalah satu benang yang saya tarik dari ujung kiri ke ujung lainnya. Dan, di depan saya ada jutaan orang yang menggerakkan benangnya sesuka hati. banang-benang itulah yang membentuk makna: siapakah Ariel.

Tidak terbayang sebelumnya jika Ariel kemudian dilekatkan dengan kata ‘PeterPorn’, sebagaimana muncul di jejaring sosial Twitter. Ariel sebelumnya dimaknai sosok adem, cool dan tak banyak bicara. Ia sosok muda yang sukses meraih model musik yang diminati mulai dari anak-anak hingga orang tua. Kini makna itu buyar. hanya dengan gerakan seseorang yang mirip Ariel (karena beluma da bukti bahwa itu benar-benar Ariel), ia berbicara banyak.

Itulah dunia Maya. Bermain-main di dunia maya akan meraih kenikmatan yang sama besarnya dengan resiko yang bisa diterima. Kekayaan, harkat dan martabat dengan mudah didapat. Tetapi juga secepat kilat ia jatuh. Makna kita di dunia maya itu, meminjam istilah Saussure, manasuka atau arbitrer.

Maka, saran saya, terima sajalah Riel. Sebagai sesama manusia, gw bisa merasakan beban apa yang lo rasain. Inilah hidup di zaman dunia maya. Dunia maya kita nyata. Tak sebagaimana dunia maya zaman Purba.

Seorang ulama NU pernah menasehati saya: “kalau Anda bercita-cita menjadi public figure relakan jiwa dan ragamu demi ummat.”

Written by Admin

June 11, 2010 at 4:47 am

Posted in Kolom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: