Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Ulang Tahun-mu: Terima Kasih, Yank!

leave a comment »


Dan, catatan ini hanya sejauh kuingat. Kau mungkin dapat mengingatnya lebih baik. dan kira-kira seperti itulah Umi melahirkanmu 25 tahun yang lalu. Tak banyak anak mengenang saat-saat dia lahir di dunia, tetapi setiap ibu pasti mengenangnya.

___________________

Reading time: 2-3 minute

 

Pada hari di mana dalam KTP-mu, tertera tanggal kamu lahir, saya ingin menghaturkan beribu terima kasih. Meski kau bekali-kali mengutakan bahwa sebenarnya kau tak lahir pada tanggal tersebut. Meski saya tahu bahwa tanggal tersebut muncul pada saat kau tercatat sebagai warga Indonesia setelah sekian tahun kau lahir. Meski ibumu mencatat hari itu dalam batinnya dengan penanggalan kelender Hijriyah, kalender buatan umat Islam yg tidak lagi bertuah.

Hari ini, mungkin kau tengah berbahagia. Sedari tadi malam puluhan orang di Facebook HP-mu mengucapkan selamat. Dengan begitu, saya tahu, kamu bahagia. Orang-orang di sekelilingmu, meski maya, berada di sampingmu. Mereka bersamamu. Kau memang layak mendapatkannya.

Mereka juga ucapkan selamat lantaran, hingga kini, kau masih dipercaya Tuhan mengalami dunia ini. Dan itu berarti, kau masih memiliki kesempatan yang banyak untuk berbuat lebih baik lagi. Dan mereka yakin kau akan mengukir karya dan sukses melakukannya. Tak seperti di luar sana. Ada jutaan orang yang tak punya kesempatan sepertimu. Ini prestasi dibanding jutaan warga Irak atau Afrika, atau Cisalada sana yang tak lagi bernyawa atau tenang lantaran terorisme. Tak heran rasanya, mereka ucapkan selamat padamu.

***

Saya tidak mengerti mereka kenapa mengucapkan selamat kepadamu? Kenapa tidak kepada ibumu, Umi kita itu loh. Bukankah Umi yang melahirkanmu? Bukankah Umi yang dengan ridlo dan ikhlas membawamu ke sana kemari sembilan bulan? Bukankah Umi, yang di hari-hari jelang kau lahir paling tidak tenang?

Bukankah Umi yang melewati rasa sakit jelang kau lahir? Meski ceritamu Umi tak susah melahirkanmu, “tak susah” tak berarti tak sakit, toh? Bukankah Umi yang dengan sabar dengan sabar memberi ASI saat kau kelaparan pertama kalinya? Bukankah Umi yang ikhlas tak tidur malam menemanimu untuk pertamakalinya?

Sudah sepantasnya kita berterimakasih kepada Umi. Tanpa keikhlasannya membesarkanmu, mungkin kita tidak akan pernah bertemu. Tak ada alasan menyangkal keharusan kita berterima kasih ke Umi. Dial juga kan yang merestui kita bersama dengan do’a-do’a hingga hari ini.

Layak juga kita berterimakasih kepada Abeh juga. Meski dia laki-laki, tak melahirkanmu, tak membawamu diperutnya selama sembilan bulan, dia orang yang paling ikhlas menantimu dan merawatmu semampunya. [allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fu anhu, waakrim nuzulahu, wawasi’ madkholahu, waabdilhi daron khoiron mi darihi, al-fatihah].

***

Hari itu, sebagaimana mahasiswa lainnya, saya sudah kehabisan bekal. Tak ada lagi sisa uang untuk membeli makan. Jangankan lauk pauk, nasipun tak bisa saya beli. Hari itu, kau membelikan saya nasi bungkus. Selamatlah saya dari lapar. Yang tak bisa saya lupa, kau hari itu tak bertanya saya sudah makan atau belum. Kau cukup melhiat dari wajahku sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk menolong. Tak sia-sia kau berpuasa selama ini. dengannya, kau bisa merasakan apa yang tengah orang lain rasakan.

Hari lain, kau mengunjungi rumahku pertama kalinya di Garut. Sebetulnya kau ke Garut untuk tugas penelitian dari LSI. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, pikirku saat itu. Kala itu, tak kukenalkan kau sebagai pacar. Sebab saya ingin tahu apa pendapat mereka tentang dirimu sebagai dirimu tanpa embel-embel pacarku. Toh, mereka di Garut juga tak menduga kalau dirimu pacarku sebab ada beberapa perempuan lain seinggah sekedar mampir sebelum ke lokasi penelitian.

Tak kuduga, namun sesuai harapan, pada saat mereka tahu bahwa kau calon istriku, mereka bahagia. “Yayank mah someah, kawas lain urang kota, istuning jiga urang lembur bae,” [Yayank ramah, tidak terlihat layaknya orang kota [yg sombong], sudah seperti orang sini], tutur mereka. Dan, penuturan tersebut masih bertahan hingga kini. Kau bisa saksikan sendiri, kan. Bahkan, Uu Omah, saat kuutarakan kepada keluarga hendak melamarmu, paling bersemangat mendukung keputusanku itu. Dia tak ingin saya melepaskan kamu lantaran karamahanmu.

Dan, hari yang tak akan pernah kulupa adalah saat-saat kau berjuang melahirkan Izi, anak kita. Sejak kita tahu bahwa rahimmu sudah terisi manusia lain, kau sabar. Seringkali kau mengeluh bahwa kau tak suka susu, tapi seraya itu pula kau meminumnya sumir. Demi anak kita, ucapmu suatu hari. Hari demi hari kau lalui. Perutmu kian membasar. Tentu tiap langkahmu, tiap dudukmu, tiap tidurmu tidak nyaman. Melangkah hati-hati, duduk hati-hati, tidur pun hati-hati.

Dan tiba hari itu, selepas kau makan duren, kau mengeluh kok semakin sering perut mengeras. Ini barangkali yang disebut kontraksi, katamu. Malam itu kita ke bidan. Di sana kau diperiksa. Dengan senyum bidan berkata, sudah pembukaan dua. Kala itu kau memilih pulang. Di rumah, kontraksi makin sering dan bikin pinggang panas, katamu. Sampai akhirnya di rumah bidan kau tak sanggup lagi jalan. Kau hanya bisa menunggu. Badanmu sesekali menegang dengan jeritan menahan mules.

Kala itu, tengah malam, kau berusaha mengatur nafas sesuai ritme kontraksi. Dan pada kontraksi paling akhir, pada saat kepala Izi sudah nongol, kau menjerit sekuat-kuatnya, barangkali kau tak berada di sana kala itu, kau ada dalam kekuatan maha Ghaib, dan Izi keluar. Ajaibnya kau tersenyum, itulah wajah yang pertama aku setelah kau berjuang. Terima kasih.

Dan, catatan ini hanya sejauh kuingat. Kau mungkin dapat mengingatnya lebih baik. dan kira-kira seperti itulah Umi melahirkanmu 25 tahun yang lalu. Tak banyak anak mengenang saat-saat dia lahir di dunia, tetapi setiap ibu pasti mengenangnya.

Layaklah hari ini kuucapkan terima kasih kepadamu, dan kita ucapkan terima kasih kepada Umi.

TERIMA KASIH, Yank.

Hormat kami,

Husni Mubarak & Fritzi Naraya Ahmad

Written by Admin

October 5, 2010 at 9:49 am

Posted in Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: