Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Busway, Alternatif?

leave a comment »


Dapatkah kita mengandalkan Bus Transjakarta [Busway] sebagai penyedia transportasi alternatif? Pertanyaan yang lebih jauh lagi, dapatkah Busway menjadi alternatif untuk memecah kemacetan? Artikel ini menegaskan bahwa Busway, alternatif yang ditawarkan pemerintah tidak nampak sebagai alternatif, tetapi sama seperti angkutan umum lainnya._____________________Reading time: 2-3 Minute

Insiden

Hari ini (25/10), saya membaca berita di Tempointeraktif.com berjudul “Tabrak Bocah, Warga Ancam Blokir Jalur Transjakarta.” Dalam berita tersebut, dikabarkan warga  Daan Moot, protes dan mengancam akan memblokir jalur Busway jika pengelola Transjakarta tidak bertanggung jawab atas insiden kecelakaan yang melukai dua bocah.

Insiden itu terjadi pada Minggu siang. Dua orang bocah, Farhan Alwi (10) dan Muhammad Adi (8), tertabrak pada saat hendak menyebrang di jalan Daan Mogot. Farhan mengalami luka di pipi, kening dan dagu. Sementara, Adi sempat kritis karena ia mengalami geger otak. Namun kini ia sudah membaik.

Peristiwa ini mengisyaratkan kita dua kemungkinan; pertama, dua bocah ini nakal, menyebrang di jalur yang salah. Atau, kemungkinan kedua, skenario sistem transjakarta belum baik sehingga bocah yang nota bene disebut “nakal” bisa melintasi jalur Busway dengan mudah.

Dari dua kemungkinan ini, saya serahkan Anda mana yang paling bisa menjelaskan. Toh, bocah senaka apapun tak bisa melintas jika ada pengawasan yang ketat mengenai kelancaran jalur ini.

Melelahkan

Hari itu, saya hendak menghadiri acara di kawasan Senen, tepatnya di gedung Menara Era. Bersama teman, dari kawasan Pondok Indah, kami memutuskan untuk menggunakan Busway dan memarkir motor di Mall Blok M.

Sesampainya di loket Busway Blok M, pikiran saya menerawang. Saya membayangkan akan sampai dalam waktu 30 menit. Busway yang akan saya tumpangi melewati jalur steril, di mana hanya bus yang dapat mengangkut 85 orang itulah yang dapat melewatinya. Tak terpikirkan sedikitpun kata macet dalam benak saya.

Belum juga penerawangan selesai, halte Blok M memecah harapan. Antrian calon penumpang kira-kira 20 meter. Masing-masing antrian terdiri dari empat baris. Sesak, tak ada pendingin udara, dan berdiri sekitar 30 menit  sungguh melelahkan. Sesungguhnya di menit ke 18, ada Busway yang lewat dan memberi harapan. Rupanya, ia tak hendak mengangkut kami. kami harus  rela menanti Bus selanjutnya.

Usai penantian melelahkan di Halte Blok M, perjuangan belum berkahir. Saya harus berdiri hingga halte Harmoni. Dan, memang hingga halte Harmoni tak ada penumpang dekat saya yang berdiri dan pergi. 40 menit berdiri sampai ke Harmoni sungguh terasa. Betis amat pegal.

Berharap penderitaan berkahir, halte Harmoni menjadi saksi betapa perjuangan belum usai. Di halte Harmoni, loket untuk bus ke Senen dari jauh sudah terlihat antrian sepanjang 30 meter. Saya sempat ikut antrian tersebut dengan harapan, Busway segera datang. Hingga 20 menit mengantri tidak bergerak maju. Antrian malah makin panjang.

Entahlah

Entah. Apakah memang nasib saya harus berjuang dan merasakan pegal-pegal di betis, ataua sistem Busway yang tidak beres? Hanya Allah dan Gubernur Jakarta yang tahu.

Written by Admin

October 25, 2010 at 10:29 am

Posted in Kolom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: