Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Nilai & Demokrasi

leave a comment »


Sumber: www.pekikdaerah.wordpress.com

Perdebatan apakah nilai dan demokrasi terpisah sudah berakhir. Keduanya saling dibutuhkan pada saat yang bersamaan. Nilai tanpa prosedur demokratis, tak mungkin terwujud. Demikian juga sistem demokrasi hanya berguna jika terinternalisasi nilia-nilai oleh pada aktornya dalam bentuk kebijakan.

____________________

Reading time: 3-5 minute

Berdemokrasi tidak bisa lagi dilihat semata-mata prosedur, juga semata-mata nilai. Semata prosedur, demokrasi terasa hambar. Buat apa prosedur jika tidak ada nilai yang hendak dituju. Atau prosedur untuk nilai dan tujuan segelintir orang tanpa memperhatikan nilai dan keutamaan warganya, juga hambar. Minim keterlibatan warga berarti demokrasi illlegitimate. Jika demikian, tidak ada demokrasi.

Begitu juga nilai yang hendak diterapkan anggota masyarakat hanya dapat dijalankan melalui kontestasi yang adil. Atas dasar inilah sistem demokrasi kita pilih. Pengalaman buruk model demokrasi terpimpin era Soekarno dan demokrasi pancasila zaman Soeharto mengarahkan persepsi kita akan sistem yang lebih adil dan fair.

Prosedur yang adil dan terbuka memungkinkan nilai keadilan, kebebasan dan kesejahteraan tercapai. Kontestasi yang fair memberi peluang bagi chack and balances antara warga dengan pemerintahnya. Inilah idel tipe demokrasi yang sedang kita bangun bersama.

Demikian kesimpulan umum dalam diskusi bertajuk “Nilai dan Demokrasi”. Diskusi yang digelar pada Rabu, 13 Oktober 2010 ini menghadirkan Ihsan Ali-Fauzi, direktur program Yayasan Paramadina, Jakarta, dan Budhy Munawar-Rachman, pegiat The Asia Foundation (TAF) sebagai pembicara.

Civil society

Dalam kesempatan tersebut, Ali-Fauzi menyodorkan perdebatan antara Herbert Feith dengan Hery Benda mengenai demokrasi di Indonesia. Feith, dalam bukunya The Declain of Constitutional Democracy in Indonesia, mengajukan pertanyaan mengapa demokrasi di Indonesia tidak jalan? Feith menjawab menemukan bahwa kegagalan demokrasi di Indonesia lantaran tidak didukung oleh masyarakatnya. Sehingga, demokrasi pada ekperimen pertama, era Soekarno, macet.

Benda mengkritik tesis tersebut, lanjut Ali-Fauzi, dengan mengajukan pertanyaan baru. Bagi Benda, bukan pertama-tama mengapa demokrasi di Indonesia awal macet, tetapi mengapa demokrasi bisa tumbuh di Indonesia? Padahal, tidak ada lahan untuk sistem model demokrasi di Indonesia. Masyarakat Indonesia memiliki sejarah panjang feodalisme Jawa dan kasta model Hindu. Alih-alih gagal, Benda menilai demokrasi kemunculan demokrasi di Indonesia unik.

Ali-Fauzi menilai bahwa memisahkan antara nilai yang ada di masyarakat dengan sistem demokrasi tidak relevan. Mengutamakan nilai artinya negara tidak dipandang penting. Begitu juga, mengutamakan prosedur menganggap nilai akibat belaka dari keberadaan negara. “Keduanya saling menguatkan dan memengaruhi,” tutur Ali-Fauzi.

“karenannya,” lanjut Ali-Fauzi, “tugas kita adalah memperkuat keterlibatan masyarakat dalam sistem demokrasi sembari memperkuat sisietm dan profesionalisme aktor negara.” Dengan begitu, prosedur demokrasi akan bermakna bagi kehidupan masyarakatnya. Pada tataran itulah nilai dengan sendirinya dapat didekati.

Level mikro

Menghidupkan nilai di masyarakat adalah bentuk partisipasi demokratisasi. Jika nilai seperti keadilan, toleransi, kebebasan dan kesetaraan hidup dan menjadi karakter dalam keseharian, maka demokrasi tumbuh dengan baik. Tanah subur dapat menumbuhkan pohon dengan sempurna. Semakin subur nilai-nilai di masyarakat, semakin bangunan demokrasi kokoh. Demikian simpul Munawar-Rachman.

“Menghidupkan nilai di pesantren, misalnya,” tutur Munawar-Rachman, “membangun keterbukaan dan kemandirian siswa atau santri dalam mengelola aturan main di antara mereka.” Inilah model demokratisasi pada level mikro. Keputusan atas dasar musyawarah bersama yang dapat diawasi dan dikontrol secara bersama pula merupakan modal dasar ladang subur bagi demokrasi.***

Sumber foto: http://www.pekikdaerah.wordpress.com

Written by Admin

October 26, 2010 at 8:59 am

Posted in Kolom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: