Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Merevisi Sekularisasi

leave a comment »


Buku ini menegaskan bahwa teori sekularisasi belum usai. Inglehart dan Norris mengajukan hipotesis bahwa sekularisasi bergantung pada rasa keamanan eksistensial manusia. Semakin rasa keamanan eksistensial terjamin, sekularisasi terjadi. Bila sebaliknya, keyakinan bahwa agama solusi untuk urusan duniawi semakin kuat.

“Anda boleh setuju atau tidak dengan berbagai kesimpulan dan bagaimana hal ini diperoleh, tapi ini buku tentang sekularisasi yang haram Anda abaikan.” Demikian kalimat pembuka Ihsan Ali-Fauzi dan Rizal Panggabean, dalam pengantar edisi Indonesia buku Sekularisasi Ditinjau Kembali Agama dan Politik di Dunia Dewasa ini, karya Pippa Norris dan Roland Inglehart.

____________________

Reading time: 2-5 minute

Mengapa buku ini sedemikian penting? Pertama, berbeda dari teori sekularisasi klasik yang mengambil kesimpulan secara parsial, berdasarkan kasus di negara atau benua tertentu, Norris dan Inglehart dalam buku ini meneliti 80 masyarakat di hampir 76 negara di dunia. Penulis memanfaatkan data World Value Survey dan Eurobarometer dalam empat gelombang dari 1981-2000. Maka tak heran, dan sah secara metodologi, klaim buku ini merepresentasikan warga dunia.

Kedua, teori klasik sebelumnya memandang sekularisasi secara hitam putih. Akibatnya sulit menghindari kritik dan menjelaskan anomali-anomali. Kegagalan mereka tidak dapat melihat pola di level mikro yang dinamis. Menolak sama sekali atas lantaran kelemahan ini bukan cara terbaik. Sebab, sekularisasi tidak bisa dihindari. Dengan cara sistemtis buku ini memberi jawaban dengan membandingkan berbagai jenis masyarakat untuk menunjukan variasi dan dinamika antara sekularisasi dan religiusitas di dunia.

Keunggulan ketiga buku ini adalah merevisi tesis klasik mengenai sekularisai. Teori klasik mengenai sekularisasi amat dipengaruhi oleh Weber dan Durkheim. Weber memandang sekulariasasi adalah konsekuansi dari industrialisasi dan modernisasi. Kepercayaan akan yang gaib terkikis seiring tumbuhnya rasionalitas berbasis empiris untuk menguji satu kebenaran. Rasionalitas dan modernisasi mengakibatkan hilangnya pesona dunia.

Demikian juga Durkheim yang memandang bahwa religiusitas yang terdiri dari ritual dan upacara memperingati kelahiran, kematian, pernihakan dan lainnya, mulanya menjadi sarana penting ikatan solidaritas dalam satu kelompok masyarakat. Diferensiasi masyarakat modern yang melahirkan kaum profesional dan organsiasi-organsiasi modern mengambil alih peran agama. Jika dulu sakit datang ke ustadz, pendeta atau biksu, kini perannya diambil alih dokter. Itulah sekularisasi.

Para kritikus menyerang dan meragukan tesis dan ramalan mereka. Dunia sudah mencapai tahap pasca industri, agama semakin menguat. Serangan 11/09 di AS, serangan AS ke Irak di atas argumen dan bahasa agama, fundamentalisme Hindu di India, kebangkitan fundamentalisme Islam di Eropa, dan fenomena kebangkitan agama lainnya.

Bila Weber dan Durkheim menjelaskan sekularisasi disebabkan modernisasi dan industrilisasi secara umum, Inglehart dan Norris dalam buku ini merevisi. Bagi mereka, negara yang industrialisasi dan modernnisasi berhasil memenuhi kebutuhan paling dasar manusia: keamanan eksistensial. Dan, karena itulah sekularisasi terjadi.

Atas dasar itu, ini kesimpulan mereka, bahwa pemenuhan kebutuhan akan keamanan eksistensial mendorong orang acuh terhadap agama. Kerentanan akan resiko dalam kehidupanya, membuat manusia memegang erat dan aktif dalam kegiatan keagamaan. Semakin individu merasa aman, semakin sekular ia. Sebaliknya, religiusitas seseorang semakin kuat pada orang yang rentan akan resiko-resiko dalam hidupnya.

Norris dan Inglehart mengukur religiusitas dengan sebarapa penting agama dalam kehidupan, sebarapa penting Tuhan dalam kehidupan, sebarapa sering mengadiri rutinitas ritual keagamaan, seberapa sering berdoa, seberapa percaya surg, neraka dan jiwa. Jawaban dari 80 masyarakat dunia disilang dengan jenis negara, perekonomian negara, demografi, pendidikan, pekerjaan, ancaman epidemi penyakit, bencana alam, krisis ekonomi dan pangan.

Data membuktikan bahwa negara agraris yang miskin dan rawan akan resiko dalam kehidupan, sangat religius; memandang penting agama, Tuhan, doa dan aktivitas ke tempat beribadah tinggi. Sementara di negara pascaindustri di mana berbagai kekhawatiran-kekhawatiran, termasuk bencana alam sudah dapat dipredisksi dan diantisipasi, tidak memanggap agama, Tuhan, doa dan intesitas ke tempat ritual, penting.

Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Swedia di Eropa Barat, Jepang di Asia dan negara bekas komunis (negara melarang agama) adalah negara-negara pasca industri yang kurang religius. Sementara itu, di papan tengah ada Australia, Chile dan Portugal, negara-negara industri lainnya, cukup moderat. Dan terakhir negara agraris seperti Nigeria, Tanzania, Uganda dan Zimbabwe adalah negara miskin yang tingkat religiusitasnya tinggi.

Dengan demikian, sekularisasi memang terjadi berlangsung tetapi umumnya di negara-negara pasca industri, negara yang memberi rasa aman dan nyaman kepada warga negaranya.

Pada saat yang bersamaan, Norris dan Inglehart menemukan bahwa angka kematian di negara miskin memang tinggi. Tetapi tidak seberapa dibanding angka kelahiran yang juga amat tinggi. Sementara di negara pasca industri, karena ada pola kebudayaan berbeda mengenai fungsi perempuan, angka kematian rendah dengan angka kelahiran yang juga lebih rendah dari kelahiran. Bisa diprediskui bahwa penghuni dunia yang religius lebih banyak, dan akan terus bertambah, dibandung warga yang sekular yang terus berkurang.

Sumbangan lain buku ini adalah merontokkan tesis benturan peradaban Samuel P. Huntington. Studi perbandingan agama dan politik buku ini memperlihatkan bahwa negara-negara muslim cenderung positif memandang demokrasi di Barat. Tidak cukup bukti untuk meramalkan benturan perdaban akibat penilaian terhadap demokrasi pasca perang dingin.

Kepada siapa saja yang bicara tentang sekularisasi dan keberagamaan tanpa membaca buku ini, “baiklah kita malu, tak enak hati, jika kita berani bicara tentang apa saja yanag terkait dengan tema ini.” ***

Written by Admin

November 2, 2010 at 5:06 am

Posted in resensi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s