Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Pelajaran Cinta dari “Benteng” Takeshi

leave a comment »


Jum’at lalu, saya bersama teman-teman menonton film berjudul A Scene at the Sea. Ini adalah film Jepang yang disutradarai oleh Takeshi Kitano, tokoh lucu di acara Benteng Takeshi. Ini film isinya romantis. Makanya, kami memutar di bulan Februari, bulan kasih sayang. Untuk itu, saya pernah mencatatnya menjadi serial tweet di twitter. Berikut catatannya:

# Baru sj selesai nobar dan diskusi film Takeshi Kitano judulnya “A Scene at the Sea”. Ada beberapa yg menarik dlm film ini.

# Tapi catat dulu ya, sy ini bukan film maker or pengamat film apalagi kritikus. Sy penikmat nobar, film dan suasananya.

# Tema besar film ini, buat sy, adalah cinta dan pengorbanan. Cinta sepasang kekasih. Cinta atasan ke bawahan. Cinta peselancar pd profesinya.

# Film ini jg bicara soal pengorbanan. Pengorbanan spsang kekasih. Pengorbanan atasan pada bawahan. Pengorbanan untuk jd profesional.

# Dua tema tadi amatlah umum. Lalu di mana menariknya film Kitano ini? buat sy film ini sangat kuat cara penggambaran & karakter aktor dapet.

# Kitano ambil tokoh utamanya (sepasang kekasih) bisu & tuli, keduanya. Cara ini beresiko: klo aktornya bermain buruk, film akan gagal.

# Film ‘A Scene at the Sea’ ini berhasil.

# Mis. Sopir larang Shigaru naik bis krn bawa papan selancar. Ia jalan kaki. Takako, si pacar, d bis tak mau du2k meski kursi kosong. setia.

# contoh lain. Setiap kali shigeru main selancar, Tatako setia menemani, dan melipatkan baju si kekasih. Sampai2 ia melipat baju org.

# Kita, penonton, bisa merasakan cemburu dan pertengkaran antara shigeru dan tatako. Padahal keduanya tak mendengar dan tak berkata-kata.

# Saat Takako marah, Shigeru ngajak balikan dg caranya: duduk berdua, memandangi laut, tak ada suara tak ada kata.

# Maki (Shigeru) & Oshima (tatako) berakting keren. Saking kerennya, klo sy ketemu dia sekarang & ia tak berkata2, sy akan duga ia bisu-tuli.

# Maki dan Oshima mampu memaksimalkan raut muka org sunyi, tak ada suara, hanya ‘suara’ hati. Atas dasar ‘suara’ inilah ia mrk berekspresi.

# Kalau dibedakan antara yg banal & yg eksistensial, maka cinta shigeru & Takako dlm film ini: yg kedua. Cinta tanpa dibanjiri janji gombal.

Film ini mengajarkan banyak hal. Kali ini saya ingin menyajikan dua pelajaran saja. Pertama, cinta tanpa mengumbar kata lebih dalem daripada banjir kata. Anda tentu ingat reality show “Raja Gombal”. Kita semua suka digombalin, tapi yakinlah itu kesenangan sesat, short term.Cinta untuk jangka panjang datang dari hati ke hati. Isyarat yang hanya bisa mewakili karena cinta adalah soal rasa.

Jika kita buat level cinta, maka cinta terdalam dan alami hanya cinta seorang ibu kepada anaknya. Apakah sebaliknya, belum tentu.

Kedua, film ini juga mengajarkan konsistensi: alah bisa karena biasa. Gagal itu biasa, tapi jangan menyerah. Shigeru tak kenal lelah untuk berlatih selancar. Dan, ia mendapat hasil dari kerja kerasnya.

Soal keteguhan hati, saya jadi teringat bagaimana anakku yang berusia 1,8 bulan berlatih bicara. Ia hampir setiap saat mengulangi kesalahan mengucapkan kata. Tapi dia cuek, ga malu dan terus berusaha hingga kata yang terucap makin sempurna.

Demikian.

Di bawah ini trailer filmnya. Sila diburu:

Written by Admin

February 15, 2012 at 12:04 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: