Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Perempuan, Agen Perdamaian?

with one comment


Umumnya, banyak dari kita yang meyakini bahwa kekerasan identik kepada laki-laki dan kelembutan dengan perempuan. Jika laki-laki agresif, maka perempuan pasifis. Persepsi ini diyakini karena sejarah menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering menjadi penyulut perang, sementara perempuan berteriak untuk menghentikannya. Di medan perang sekalipun, perempuan umumnya bertugas mengobati atau menyembuhkan dan mengupayakan korban agar tetap hidup.

Studi mengenai perempuan dan perdamaian berakar pada studi gender sebelumnya. Studi gender yang secara khusus terkait dengan konflik sebenarnya sudah ada, namun tidak banyak diangkat. Isu utama studi gender yang paling umum adalah stereotip berbasis gender (gender-based stereotyping) dan gap gender yang terdokumentasikan dengan baik (well-documented gender gap).

Laki-laki identik dengan kekerasan dan perempuan dengan kelembutan adalah stereotip. Stereotip ini berlaku sejak kedua makhluk ini lahir hingga akhir hayatnya. Keduanya juga dinilai berbeda dalam situasi perang. Laki-laki biasanya inisiator, prajurit dan pemenang atau pecundang. Sementara perempuan menempati peran pemrotes anti perang dan pengusul perdamaian.

Stereotip ini memperkuat anggapan bahwa laki-laki cenderung agresif sementara perempuan pasifis. Sehingga, jarak keduanya cukup jauh ketika, misalnya, diberi pilihan penggunaan kekuatan militer atau tidak untuk menyelesaikan konflik. Laki-laki akan cenderung memilih kekuatan militer dan perempuan cenderung pendekatan non-militer. Dari situlah hipotesis perempuan dan perdamaian muncul dan mulai diujicoba keabsahannya.

Jeannette Haynie, dalam tesis yang saya ulas ini, menguji hubungan perempuan dan perdamaian dengan membandingkan peran perempuan dan kecenderungan akhir di 93 negara yang berkonflik sepanjang 31 tahun. Control variable studi ini terdiri dari GDP per kapita, pengeluaran militer, kemampuan nasional (national capability), tahun sejak peremapuan mendapat hak sipil dan politiknya, model presidensial atau parlementer, dan status demokrasi.

Banyak studi yang telah dilakukan mengenai stereotip berbasis gender dan gap berdasarkan gender dalam kaitannya dengan perang. Perempuan Amerika dukungannya lebih rendah dibanding laki-laki terhadap perang Gulf, bahkan perang dunia II, Korea dan Vietnam.

Studi lain menunjukkan bahwa perempuan akan lebih sering menjawab “tidak tahu” ketika ditanya mengenai kebijakan luar negeri dan militer daripada leki-laki yang umumnya punya opini. Meski demikian, diam tidak berarti tak  memiliki opini. Karena itu, rumusan teoritiknya: semakin perempuan berpendidikan tinggi semakin ia menolak kebijakan yang menggunakan kekerasan, dan semakin opini mereka berbeda dari laki-laki.

Variable sosioekonomi juga turut menjelaskan gap gender ini. Dalam situasi perang, perempuan adalah kelompok pertama yang merasakan akibatnya. Ketiadaan barang kebutuhan pokok, mereka paling langsung merasakan susahnya hidup akibat perang. Rata-rata penghasilan menyumbang preferensi perempuan terhadap penggunaan militer dalam penyelesaian konflik.

Sejumlah literatur juga memperhitungkan faktor biologis yang memperlabar gap gender. Perempuan (sifat keibuan) dinilai lebih peduli pada masa depan anak-anaknya daripada laki-laki. Perbedaan jiwa tersebut mendorong perempuan lebih emosional dan membutuhkan orang lain. Dengan begitu, perempuan akan lebih memilih tanpa kekerasan sebagai jalan untuk mengatasi konflik, demi masa depan anak-anaknya.

Gap gender inilah yang memungkinkan hipotesis perempuan dan perdamaian bisa dijalankan. Sehingga ketika perempuan berkuasa, maka kecenderungannya negara yang ia pimpin akan memilih pendekatan non-militer. Mereka akan kooperatif dan terbuka untuk negosiasi dengan lawan-lawannya.

Terhadap asumsi tersebut, studi Caprioli (2000) memperlihatkan bahwa semakin setara secara gender pada satu pemerintahan semakin sedikit konflik kekerasan. Menurutnya, negara akan menggunakan metode yang sama antara masalah domestik dan internasional. Dia mengukur kesetaraan gender melalui tiga jalan: sosial, politik dan ekonomi. Kesetaraan gender pada tiga aspek ini memiliki hubungan kuat dengan sedikit banyaknya konflik kekerasan. Pada tahun 2001, Caprioli melanjutkan studi dengan hipotesis yang sama bersama Boyer: keseetraan gender pada parlemen dan pejabat tinggi negara. Mereka menemukan di negara yang level kesetaraannya tinggi memperlihatkan tingkat kekerasan yang rendah pada masa krisis.

Studi lainnya, Melander (2005) memiliki semangat yang sama dalam melihat hubungan antara perempuan dan cara negara memperlakukan hak dasar warga negara. Ia melihat pada dua level: ada tidak pimpinan perempuan di sektor eksekutif? Seberapa banyak perempuan di parlemen? Ia meneliti kebijakan negara sepanjang 1977-1996. Ia menemukan bahwa jumlah pelecehan hak-hak asasi manusia menurun seiring dengan meningkatnya jumlah anggota parlemen perempuan.

Berbeda dari dua studi di atas, temuan Tessler dan Warriner (1997) justru memperlihatkan perempuan tidak lebih pasifis daripada laki-laki dalam kasus konflik Arab-Israel di Timur Tengah. Kemudian, studi lain Tesler bersama Nachtwey dan Grant (1999) dengan data tambahan tetap saja berakhir dengan kesimpulan sama bahwa tidak ada gap antara laki-laki dan perempuan dalam melihat konflik di Timur Tengah: mereka sama-sama mendukung perang. Hubungan positif antara perempuan dan perdamaian hanya pada level individu yang memiliki pandangan feminis yang memadai.

Terakhir, studi yang dilakukan Regan dan Paskeviciute (2003). Mereka menemukan bahwa ketika perempuan memiliki kesempatan dan keterlibatan politik meningkat, kecil kemungkinan terjadi peperangan.

Dari studi-studi literatur di atas, Haynie mengevaluasi apa betul perempuan di parlemen dan menduduki jabatan tertentu merepresntasikan konstituen perempuan. Haynie memperlihatkan bahwa sebagai anggota parlemen, perempuan sulit independen. Ia akan tunduk kepada aturan dan gelombang besar keputusan partai. Jadi ia lebih merepresentasikan kebijakan dan sikap partai daripada sikap pribadinya. Tujuannya agar ia tetap mendapat tempat penting pada pemilihan berikutnya dan terpilih kembali.

Pandangan stereotip bahwa perempauan pasifis mendorong pembagian kerja yang selalu tidak menempatkan perempuan pada posisi untuk memutuskan kekuatan militer dan khususnya terkait kebijakan luar negeri karena mereka dianggap “lemah”. Karena itu, perempuan yang menduduki jabatan tersebut akan terdorong untuk tampil maskulin dalam memegang jabatan tersebut. Dari sini, perempuan justru akan dekat dengan konflik kekerasan.

Haynie kemudian merumuskan bahwa soalnya bukan pada ada atau tidaknya jumlah perempuan di parlemen dan di lembaga penting pemerintah, tetapi sejauh mana perempuan mendapat tempat di posisi penting itu akibat dari perubahan paradigma terhadap perempuan lebih terbuka. Dalam konteks ini, temuan Tessler dkk. menarik perhatian di mana individu yang memiliki pandangan feminis  mengenai kesetaraan memiliki korelasi positif dengan perdamaian. Artinya keberadaan perempuan yang tidak memiliki basis normatif tersebut, meski menduduki jabatan penting, tidak selalu berorientasi pada perdamaian.

Di sisi lain, peningkatan jumah perempuan tepilih di parlemen atau pimpinan di lembaga eksekutif, tetap berguna. Yakni, peningkatan tersebut memperlihatkan perubahan cara pandang umum akan kesetaraan gender. Dengan demikian, kesetaraan itu dapat membuka kemungkinan untuk perubahan paradigmatik terhadap sistem patriarkal meminggirkan paradigma perempuan yang pasifis.

Haynie melihat studi-studi di atas memiliki keterbatasan mendasar. Misalnya, penelitian Caprioli yang memisahkan antara upper dan lower di parlemen dan pengaruhnya terhadap kebijakan. Jika mekanisme untuk mengatasi persoalan luar negeri sebagaimana mekanisme penyelesaian persoalan-persoalan domestik, mestinya yang dilihat sebagai faktor tidak hanya level upper chamber di parlemen, tetapi seluruhnya, termasuk di level lower. Karena mereka inilah yang menentukan model dan strategi penanganan masalah-masalah dalam negeri.

Jenis pertanyaan Haynie dalam studi ini pada dasarnya sama dengan sarjana di atas: adakah hubungan antara banyaknya pemimpin perempuan di pemerintah pada level nasional dalam kaitan dengan konflik kekerasan antarnegara? Bedanya dari peneliti lain, Haynie meneliti perempuan di semua kamar (chamber), baik upper maupun lower. Haynei juga hanya meneliti negara yang sudah menerima demokrasi sebagai sistem selama periode penelitian.

Haynie merumuskan hipotesis sebagai berikut:

  1. Semakin tinggi tingkat keterpilihan (elected) dan ketetapan (appointed) perempuan di pemerintah nasional, baik parlemen maupun eksekutuf, semakin kecil kemungkinan konflik kekerasan antarnegara (violent interstate conflict) terjadi.
  2. Ketika keterwakilan perempuan di parlemen mencapai 30 persen, sejak itu pula konflik kekerasan antarnegara akan mulai turun sejalan dengan meningkatkan prosentase perempuan di parlemen.

Sumber data yang ia gunakan dalam penelitian ini terdiri dari: The Correlates of War (COW) database, specifically the Militarized Interstate Dispute (MID) dataset version 3.10. Adapun variable kontrolnya terdiri dari: GDP, belanja militer, kemampuan negara, tahun sejak perempuan mulai mendapat hak pilih, presidential atau parlementer, dan status demokrasi.

Haynie menemukan dukungan terhadap hipotesis perempuan dan perdamaian khususnya pada hipotesis satu (H1). Sementara data statistik yang tersedia tidak dukungan hipotesis dua (H2). Perempuan memang berpengaruh terhadap berkurangnya konflik kekerasan antarnegara, tetapi peningkatan jumlah perempuan di parlemen tidak berpengaruh signifikan.

Manfaat dan konsekuensinya bagi kita

Secara umum, saya menikmati cara Haynie sebagai sebuah karya sistematis untuk menguji hipotesis. Bagi saya, sebagai peneliti, dia cukup dingin dengan tidak mengumbar klaim di luar jangkauan data yang ia miliki. Hal ini nampak ketika data tidak cukup mendukung hipotesis dua. Ia tidak bisa melanjutkan bicara soal mekanisme jumlah perempuan di parlemen dengan hasil kebijakan yang non-militer.

Sumbangan lain untuk peneliti seperti saya adalah ketika ia mendudukan literatur review untuk menguji hipotesis perempuan dan perdamaian. Ia dudukan itu semua dalam tahapan logika yang sistematis sehingga kita dapat mengerti bagaimana hubungan antara stereotip perempuan yang identik dengan emosi justru mendapat tempat yang penting dalam perumusan hipotesis mengenai perempuan dan perdamaian. Cara ini bisa menjadi model untuk melakukan studi literatur untuk tema lainnya.

Sumbangan lain yang juga penting dari segi metodologi adalah strategi riset. Ia datang dengan jangkauan riset yang lebih luas dan bisa mencakup semua level di tingkat nasional untuk menguji perngaruh perempuan pada jabatan penting di pemerintahan (eksekutif maupun legislatif). Pertanyaan boleh jadi sama, tetapi sumber data yang berbeda bisa menghasilkan temuan yang lebih luas, bisa jadi membantah atau menguatkan temuan sebelumnya.

Temuan Haynie ini semakin mengokohkan asumsi dan stereotip bahwa perempuan cenderung ke arah perdamaian. Dari data dan analisis yang ia sajikan, saya tidak menemukan bahwa dukungan positif perempuan dan perdamaian ini berarti laki-laki identik dengan kekerasan. Haynie menurut saya tidak sedang membandingkan keduanya. Ia hanya menguji coba apakah hipotesis hubungan perempuan dan perdamaian memiliki dukungan data empirik apa tidak. Sebab, dalam penelitian ini sama sekali tidak memperlihatkan laki-laki dan pilihan kekerasan dan militer.

Sebagaimana temuan Tessler dkk. sebelumnya yang menemukan bahwa kelamin tidak berkorelasi dengan sikap terhadap kekerasan, kecuali perubahan paradigma feminisme mengenai kesetaraan. Jenis kelamin laki-laki dan perempuan bisa tidak relevan jika tujuannya adalah keadilan dan kesetaraan. Oleh karena itu, tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan blamming perempuan. “Kenapa sih ga ada perdamaian? karena perempuan sih tidak bekerja.” Keadilan dan kesataraan bukan tanggungjawab kelamin, tetapi rasa kemanusiaan.

Written by Admin

May 2, 2012 at 8:43 am

Posted in Penelitian

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. manteep

    luxthinking

    May 2, 2012 at 12:41 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: