Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Ide Membunuh Ide

leave a comment »


Alkisah, beberapa ide membunuh ide sempat dilakukan. Namun, gagal. Jangan berhenti bertanya! Demikian serunya. Berhenti bertanya, berarti berhenti berpikir. Bertanyalah sebagaimana bidan membantu melahirkan seorang bayi. Bertanyalah hingga apa yang kita anggap bijak lahir. Tapi jangan berhenti di situ. Tanya lagi sejauh mana pikiran yang sudah dianggap bijaksana itu masih bijaksana?

Sejumlah murid mempraktikkan ajaran tersebut. Lahirlah sejumlah pikiran yang, di antaranya, mengritik laku politik penguasa. Mereka juga mengritik laku beragama. Mereka juga mengritik laku bersosial. dan, seterusnya.

Penguasa dan orang yang ingin mempertahankan kebijaksanaan dalam tradisi lama meradang. Kalau ini tidak dihentikan, anak-anak muda kita akan teracuni. Kalau racun sudah menyebar, kita dalam bahaya. Mereka akan menentang ajaran suci kita. Mereka akan merusak dan menodai ajaran kita. Harus dihentikan.

Pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada sang guru. Dia didakwa meracuni pikiran anak-anak muda. Dia sumber dari segala kemurtadan. Karenanya, ia dihukum mati. Ia harus meminum racun, sebagai peringatan bagi siapa saja yang berani meracuni pikiran anak-anak muda. Sang guru dengan rela meminum racun, sebagaimana ketentuan hukuman. Dan, mati.

***

Ada siang, ada malam. Matahari bergerak dari timur ke barat. Dari ujung timur, lalu naik persis di ujung ubun-ubun kita, lalu turun dan tenggelam. Matahari mengelilingi bumi setiap hari. Bukan hanya atas penglihatan indera, agama juga mengajarkannya.

Seorang pandai berpikir, dan terus berpikir. Apa benar begitu? Ia menggunakan semua daya dan upaya pikirnya. Terus bekerja keras mencari jawaban. Hingga rumusan matematika di tangannya memberi petunjuk: matahari tak berkeliling, bumilah yang berputar pada porosnya. Ia ajarkan itu kepada murid-muridnya.

Seorang murid meyakini ajaran gurunya ini. Ia melanjutkan kerja keras gurunya. Ia berpikir dan mencari dengan berbagai rumusan. Hasilnya, rumusan gurunya semakin kuat. Bumilah yang sehari-hari bergerak mengelilingi matahari. Ia publikasikan temuannya itu.

Sontak, otoritas kenegaraan yang berarti keagamaan meradang. Murtad! Kau memutarbalikan keyakinan. Kau merusak ajaran. Kau menodai ajaran. Kau anti Tuhan. Pikiranmu itu harus dihentikan.

Konon, sang murid mati dipenggal atas dosanya itu.

***

Menurut sejumlah penelusurannya, ada banyak keganjilan dalam kisah-kisah lama. Dari empat sahabat, hanya satu orang yang meninggal secara wajar. Selebihnya, meninggal terbunuh pada saat berkuasa. Ada apa ini. Bukankah mereka pemuka dan sahabat terbaik? Apa maknanya?

Salam penelusuran lainnya, ia menemukan bahwa terjadi perang saudara sedarah dan seiman. Mereka semua memperebutkan kekuasaan yang ditinggalkan penyampai kebijaksanaan agung yang maha Kuasa. Darah berceceran dan nyawa bergelimpangan. Sesama umat seiman saling membunuh? Ada apa ini?

Ia juga amat terheran-heran mendapati kisah pemimpin di Timur yang menyebut dirinya pemimpin yang mendapat legitimasi sanga maha Kuasa, yang melakukan tindakan keji nan brutal hanya karena cemburu. Ia tega membunuhi orang-orang yang dianggap menentang kekuasaannya bukan karena penentangannya, tetapi karena ia tengah marah kepada pasangan prianya yang mencintai pria lain. Di mana ajaran Tuhan yang ia akui sebagai pemandat kekuasaannya?

Si penelusur pun meyakini bahwa sejarah tak selamanya indah. Akui saja sisi kelam ini agar dapat dihindari. Ia bukukan semua hasil penelusurannya itu.

Atas kisah-kisah yang ia sampaikan, elit agama meradang. Muka mereka lebam, seakan ditampar raksasa.  Murtad, seru mereka. Si penulis telah melecehkan ajaran kita. Bunuh! Dan, sekelompok orang bergerak cepat. Si empunya tulisanpun terbunuh.

###

Sang guru, si murid, dan si penelusur ketiganya mati. Tetapi apa kematian ketiganya sekaligus membunuh pikiran mereka bertiga? Lebih dari 2000 tahun sang guru dihukum mati, namanya tetap berkibar hingga kini. 500 tahun lalu si murid dipenggal, namanya menjadi lilin bagi terpancarnya cahaya pencerahan. Dan, 20 tahun lalu si penelusur dibunuh, pikirannya masih menjadi bahan diskusi hangat hingga kini.

Apalagi hanya membubarkan diskusi, kecil sekali. Diskusi boleh bubar, pikiran-pikiran sama sekali tidak bubar. Alih-alih berhenti, pikiran-pikiran akibat pembubaran malah berkembang, perdebatan semakin panas, dan pikiran baru kemudian bermunculan.

Adalah kesia-siaan yang sangat nyata menghentikan pikiran dengan kekerasan dan intimidasi. Ketahuilah ide membunuh ide hanya akan menghidupkan ide lebih luas daripada yang pernah kamu bayangkan!

Written by Admin

May 8, 2012 at 11:28 am

Posted in Esai

Tagged with ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: