Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Pesan-pesan “Marley”

leave a comment »


By Ueli Frey via Wikimedia Commons

Usai menonton film Marley (2012), Jum’at lalu (18/05), saya merasakan perubahan persepsi mengenai Bob Marley, ikon musik reggea ini. Terhadap Marley persepsi saya langsung menuju No Women No Cry (1974). Otak saya juga akan langsung merujuk pada ganja kalau kita bicara mengenai Marley. That’s it. Rupanya tidak.

Setelah menonton film berdurasi 144 menit ini persepsi saya mengenai Marley berubah. Pertama, sosok Marley lebih dari sekedar musik reggae dan ganja. Ia sosok sederhana yang tidak suka menjadi elit, meski ia seorang super star. Perhatikan, rumah yang ia beli untuk markas Wailers, group musiknya, tidak pernah sepi. Ia ajak teman-teman sesama Jamaika, siapa saja, kapan saja. Ia pakai halamannya untuk nongkrong-nongkrong, bahkan sepak bola, olah raga kegemarannya. Saya langsung teringat Gg. Potlot, markas Slank.

Kedua, Marley pekerja keras. Kita hanya tahu Marley dari produk musik yang ia lahirkan. Padahal, di balik produknya itu perjuangan Marley berdarah-darah. Ia berlatih dan berlatih. Sampai ia temukan jenis musik, bersama teman-temanya, yang lebih asyik: reggea. Hasilnya memuasakan. Musik, lagu, lirik yang ia tulis didengar dan dinikmati orang di seluruh dunia, termasuk orang di negeri yang menjajah negaranya. Mulai dari konser yang hanya ditonton ratusan hingga jutaan orang memadati arena konser.

Ketiga, Marley rupanya juga pejuang. Ia tak hanya bermain musik, tak hanya menghadapi masalah pribadi dan kelauarganya. Ia juga ingin hidupnya didedikasikan untuk kebanyakan orang di Jamaika. Pasca kemerdekaan dari Inggris, Jamaika terpecah belah. Masing-masing kelompok saling serang, baku pukul, saling bunuh. Dalam suasana demikian, Marley berani tampil, konser di sana. Salah satu konser yang ia gelar, misalnya, diwarnai insiden. Marley di markas mereka berlatih diserang orang tak dikenal. Ia kena tembak. Apa ia menyerah, lari ke luar negeri (dia kala itu sudah jadi super star)? Tidak. Ia lawan teror tersebut dengan tetap tampil meski dalam keadaan rapuh.

Pada konser berikutnya (1978), atas permintaan rakyat Jamaika dan keinginan dirinya, juga ia pertaruhkan nyawa untuk mempersatukan rakyat Jamaika. Bukan tidak mungkin sniper menantinya. Ia tak takut. Ia gelar konser tersebut. Di tengah-tengah lagu, dengan iringan musik, ia nyatakan perdamaian dan cinta kasih tanpa direncanakan sedari awal. Di akhir konser, ia berhasil menyatukan dua pemimpin partai Jamika yang saliang berseteru, Claudius ‘Claudie’ Massop (JLP) and Aston ‘Bucky’ Marshall (PNP), di atas panggung.

Kavin Macdonald, sutradara film ini, patut diacungi jempol. Sutradara gaek yang juga membidani film The Last King of Scotland (2006) ini menjadikan Marley sebagai sosok yang patut ditonton. Pertama-tama, kenikmatan menonton film ini karena back soundnya adalah lagu-lagu Marley. Sebagaimana kita menulis, membaca atau mengerjakan hal-hal lain, lagu-lagu Marley selalu menjadi pilihan asyik sebagai backsound bukan?

Kedua, koleksi foto dan video yang ditampilkan hampir bisa disebut dokumentasi keluarga. Ketiga, cara Macdonald menyajikan potongan foto dan video tersebut menguras emosi penonton. Mulai dari adegan datar-datar saja, sampai di mana Marley mempertaruhkan nayawanya demi Jamaika. Dan, bagi siapa saja yang emosinya mudah tersentuh, momen di mana Marley harus kalah dari penyakit kangker, begitu menyakitkan. Sebab ia tak mau kalah dari teror virus yang menggerayangi tubuhnya.

Tentu ada banyak kritik terhadap film ini. Misalnya, dari semua kisah hidup Marley, menjadikannya dalam 144 menit bukan perkara mudah. Termasuk, ketika sutradara mulai menempatkan dan mengedit koleksi dan potongan dokumen yang ia miliki. Kita patut bertanya, mengapa adabagian yang muncul dan bagian lain tidak. Tapi saya tidak ingin masuk ke sana. Biarlah kritikus film yang menuliskannya.

Saya lebih tertarik mendiskusikan Marley dalam kerangka gerakan sosial. Sebagaimana saya sebut di atas, Marley itu pejuang. Ihsan Ali-Fauzi, narasumber kita, dalam diskusi pasca nonton film sempat menyinggung soal ini. Dia katakan bahwa Marley perlu dilihat dalam konteks yang lebih besar. Pada masa Marley hidup, sejarah tengah dalam suasana di mana gerakan sosial berkembang. Pada masa itu, filsuf di Eropa seperti Foucault, Derrida, Barthes dan lainnya juga turun ke jalan untuk memperjuangkan sesuatu. Dalam konteks ini kita bisa melihat bahwa Marley sebagai pejuang tidak sendirian.

Karena itu, Marley tidak boleh dilepaskan dari konteks. Ia bukan sosok dari kayangan yang turun ke bumi. Tidak. Ia berjuang di tengah kesempatan politik yang memungkinkan dia datang dan mempersatukan rakyat Jamaika melalui konser. Pasca kemerdekaan, ada dua gengster yang berkuasa di sana yang saling bersaing dan berseteru. Tidak ada satu dominan dari yang lain. Tidak ada otoritarian. Artinya tidak ada larangan konser, seperti kita di Indonesia saat ini. Inilah kesempatan yang memungkinkan Marley, yang dielu-elukan rakyat Jamaika masuk ke sana.

Namun kesempatan politik saja tidak cukup. Kecakapan Marley melalui musik dan liriknya menjadi sumber daya yang penting. Bersama teman-temannya, promotor yang mengorganisir, juga kenetralannya dari dua kelompok yang berseteru memungkinkan ia tampil dan memengaruhi banyak orang. Ia juga berhasil memengaruhi tokoh kunci dua kelompok yang berseteru untuk bersatu. Mempersatukan di atas panggung, meski tidak secara langusng mempersatukan perseteruan keduanya, adalah simbol penting bagi para pengikut dan rakyat Jamaika untuk bersatu.

Saya juga masih ingat bahwa lirik lagu-lagu Wailers lebih banyak terkait dengan kebebasan dan hak asasi manusia, selain tema lainnya seperti cinta. Lirik-lirik tersebut diterima semua pihak, bahkan di seluruh dunia. Lirik dan ide tentang kebebasan dan hak asasi manusia itu ia tuangkan dan nyanyikan dalam musik yang bisa mempermainkan emosi, musik reggea.

Bagi saya, kesempatan politik, sumberdaya yang dimiliki dan ide-ide segar tidak ada artinya tanpa keberanian. Inilah yang tampak jelas dalam film ini menggambarkan sosok Marley. Ia lakukan untuk masyarakat Jamaika, lebih luas lagi Afrika dengan mempertaruhkan nyawa ke medan perseteruan. Ia tetap musisi. Tetapi, hidupnya selain untuk musik, ia dedikasikan bagi kehidupan rakyat Jamaikan lebih baik, yang ia mulai dengan mempersatukan mereka.

Boleh-boleh saja menganggap Marley sebagai nabi. Tetapi sebagai penjuang umat, sesungguhnya Marley tidak datang dari langit begitu saja. Ia bisa dijelaskan sebagaimana atas dasar ilmu manusia yang sudah berkembang. Ia memobilisasi massa melalui musik untuk perdamaian dalam konteks, sumberdaya dan ide tertentu. Cara pandang demikian, memungkinkan kita mengambil hikmah dari perjalanan hidup Marley untuk kita, dan siapaun di dunia ini.

Di Indonesia, Marley dinikmati dari lagu-lagunya. Kalau kita iseng melihat-lihat dalam daftar lagu di komputer, umumnya lagu-lagu Marley seperti No Women No Cry tidak akan sulit dijumpai. Kalaupun diketahui, barangkali tidak banyak orang yang tahu seluk beluk Marley. Karena itu, film ini menjadi berharga memberi informasi lebih dari sekedar lagu dan ganja-nya belaka.

Film ini cukup jelas memperlihatkan bahwa musik menjadi sarana penting bagi Marley untuk mengungkapkan sesuatu, khususnya keyakinannya mengenai kebebasan dan hak asasi manusia. Apa yang Marley lakukan, tidak banyak dilakukan musisi kita. Umumnya musisi yang menggunakan musik sebagai sarana perjuangan tidak berada (atau tidak mau masuk) di dalam lingkungan industri musik dan menjadi mainstream.

Dilihat dari kerangka gerakan sosial, konteks sosial dan kemampuan mempergunakan sumberdaya yang dimiliki harus dilihat untuk mengerti keberhasilan Marley sebagai musisi-aktivis untuk Jamaika. Meski begitu, sitasui politik dan sumberdaya yang dimiliki tidak ada artinya kalau tidak ada kemauan dan keberanian Marley menghadapi berbagai macam marabahaya.

Akhirnya pelajaran peting lain dari Marley untuk kita di Indonesia adalah Get up, stand up, stand up for your right, get up, stand up don’t give up to fight.

Get up, stand up: stand up for your rights!
Get up, stand up: stand up for your rights!
Get up, stand up: stand up for your rights!
Get up, stand up: don’t give up the fight!

Preacherman, don’t tell me,
Heaven is under the earth.
I know you don’t know
What life is really worth.
It’s not all that glitters is gold;
‘Alf the story has never been told:
So now you see the light, eh!
Stand up for your rights. Come on!

Get up, stand up: stand up for your rights!
Get up, stand up: don’t give up the fight!
Get up, stand up: stand up for your rights!
Get up, stand up: don’t give up the fight!

Most people think,
Great God will come from the skies,
Take away everything
And make everybody feel high.
But if you know what life is worth,
You will look for yours on earth:
And now you see the light,
You stand up for your rights. Jah!

Get up, stand up! (Jah, Jah!)
Stand up for your rights! (Oh-hoo!)
Get up, stand up! (Get up, stand up!)
Don’t give up the fight! (Life is your right!)
Get up, stand up! (So we can’t give up the fight!)
Stand up for your rights! (Lord, Lord!)
Get up, stand up! (Keep on struggling on!)
Don’t give up the fight! (Yeah!)

We sick an’ tired of-a your ism-skism game –
Dyin’ ‘n’ goin’ to heaven in-a Jesus’ name, Lord.
We know when we understand:
Almighty God is a living man.
You can fool some people sometimes,
But you can’t fool all the people all the time.
So now we see the light (What you gonna do?),
We gonna stand up for our rights! (Yeah, yeah, yeah!)

So you better:
Get up, stand up! (In the morning! Git it up!)
Stand up for your rights! (Stand up for our rights!)
Get up, stand up!
Don’t give up the fight! (Don’t give it up, don’t give it up!)
Get up, stand up! (Get up, stand up!)
Stand up for your rights! (Get up, stand up!)
Get up, stand up! ( … )
Don’t give up the fight! (Get up, stand up!)
Get up, stand up! ( … )
Stand up for your rights!
Get up, stand up!
Don’t give up the fight!

Written by Admin

May 23, 2012 at 9:37 am

Posted in Esai

Tagged with , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: