Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Ulama dan Mutu Demokrasi Kita – I

with one comment


Akahkah Lady Gaga manggung di Jakarta Juni mendatang? Tidak tahu. Sejujurnya, saya sudah jenuh dengan berita mengenai kontroversi ini. Cukup jelas sandiwara yang dimainkan para penentangnya. Polisi yang tidak seiya sekata antara Polda dan Polri, MUI yang meralat haram menjadi boleh dengan catatan, dan FPI yang cara mengancamnya ga berubah-ubah, ditambah dengan isu adanya permainan “putra Mahkota” dalam kontroversi ini, adalah penyebab kemuakan itu.

Di tengah-tengah itu, muncul pernyataan yang melegakkan sekaligus menggairahkan.  Lega karena akhirnya ulama yang selama ini diam, berbicara tegas mengritik praktik kekerasan atas nama Islam (nahyi munkar). Menggairahkan karena bila teladan ini diikuti oleh ulama lain di MUI, yang selama ini dianggap backing FPI melalui fatwa-fatwanya, dapat memperbaiki mutu demokrasi kita.

Ulama tersebut adalah K.H Ali Mustafa Ya’qub, pimpinan pesantren mahasiswa Darussunnah, imam besar masjid Istiqlal, yang juga dikenal sebagai ahli hadits di Indonesia. Ia dua kali tampil di tv  dan mengritik keras cara kekerasan yang dipraktikkan FPI. Pada kesempatan pertama, ia mengatakan hampir tidak ada alasan untuk membenarkan masyarakat sipil melakukan kekerasan atas alasan apapun, termasuk nahyi munkar. Menurutnya, ungkapan “ubahlah dengan tanganmu” dalam hadits nabi bukan tugas masyarakat sipil melainkan aparat negara.

Dalam kesempatan lain di stasiun televisi yang sama, ia bahkan harus mengutip Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali, hujjatul Islam, untuk mempertegas sikapnya itu. Menurut al-Ghazali, sebagaimana ia kutip, kewenangan masyarakat sipil menghadapi kemungkaran hanya dua: menasihati dan melaporkan praktik tersebut kepada aparat yang berwenang. Lebih dari itu, termasuk memukul atau menembak bila perlu adalah tugas negara.

Apa yang dikemukakan kiai Ali itu tidak asing sama sekali bagi ulama-ulama di Indonesia. Ihya Ulumuddin adalah kitab babon, yang jika seorang kiai tidak pernah membacanya agak aneh. Saya ingat waktu di kampung, salah satu kitab penting dalam pasaran, mengaji di bulan Rajab (salah satu bulan dalam kalender Hijriyah), kitab Ihya. Tak hanya membaca, ulama mengajarkan isi kitab ini kata per kata kepada murid-muridnya.

Tidak berlebihan bila saya katakan bahwa umumnya ulama di Indonesia sadar kekeliruan FPI yang mengumbar kekerasan atas nama nahyi munkar. Sayangnya, lebih banyak ulama yang berdiam diri terhadap kekeliruan yang dibuat FPI. Mungkin ada di antara mereka yang menasihati langsung, tetapi efeknya kecil saja kerena tidak diketahui publik.

Cara kekerasan a la FPI ini hanya menambah daftar buruk citra Islam di dunia inetrnasional. Usaha kita menangikisnya sia-sia jika kekerasan a la FPi didiamkan ulama. Diam berarti setuju, anggapan ini yang berbahaya. Karena itu, sudah cukup jelas bahwa musuh terbesar umat Islam adalah kekerasan. Sebagai agama yang ingin menyebarkan rahmat (kasih sayang) ke sekalian alam, tidak ada tempat bagi kekerasan di luar yang berwenang.

Minus kekerasan oleh dan terhadap sipil, ini pula cita-cita kenapa kita memilih demokratisasi 14 tahun lalu. Sistem demokrasi memungkinkan setiap orang berbicara, berekspresi dan berorganisasi. Tugas pemerintah menjamin warga negara menikmatinya dengan tenang dan aman, dan tanpa paksaan apalagi ancaman dari siapapun. Bahkan HTI yang menolak demokrasi, bisa nikmati kekebasan yang diberikan sistem yang mereka tolak ini.

Kita melihat titik temu yang jelas antara tujuan (ulama) Islam dan demokrasi: tanpa kekerasan. Dengan demikian, kolaborasi pemerintah (dalam hal ini polisi) dengan ulama untuk mengikis kekerasan, bahkan ancaman, tidak bisa ditunda lagi. Namun demikian, agar berjalan dengan lancar kolaborasi ini harus dilakukan secara terbuka. Siapapun, ulama atau polisi yang ingin kekerasan sipil enyah bisa duduk bersama saling memberi masukan dan koreksi satu sama lain.

Sejauh mana kolaborasi itu bisa berhasil mengikis kekerasan? Apa prasyarat kolaborasi itu bisa berjalan dengan baik, dan memenuhi kepentingan masing-masing pihak, yang ujungnya kekerasan dianggap tidak lagi stretgis? Siapa saja aktor yang sebaiknya terlibat? Nantikan dalam tulisan bagian II.

Sementara ini, mari kita ber-‘itirof saja dulu..

Written by Admin

May 25, 2012 at 5:13 pm

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] saya katakan dalam Ulama dan Mutu Demokrasi I, ada hikmah yang mungkin tidak kita sadari di sela-sela polemik seputar Lady Gaga: secara publik […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: