Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Munyurangabo

leave a comment »


Ingatan kita segera menuju Hotel Rwanda (2004) ketika ditanya mengenai konflik sipil di sana. Dari sana kita mengenal dua etnis, Hutu dan Tutsi, yang saling bertengkar. Dan, kita prihatin karena korban akibat perang tersebut begitu banyak. Dari film itu pula kita tahu tragedi kemanusiaan pernah terjadi.

Lalu, sejauh mana kita tahu arah masa depan Rwanda kini? Ya, kita sudah terlampau sibuk untuk tahu lebih jauh mengenai ke mana arah mereka. Saya punya resep untuk tahu arah manusia yang lahir dan mengadu nasib di Rwanda, meski kamu sibuk: nonton film. Saya rekomendasikan tontonlah film Munyurangabo (2007).

Munyurangabo adalah film pertama Rwanda dengan menggunakan bahasa asli mereka. Film berdurasi 97 menit ini juga film pertamanya Lee Isaac Chung, sutradara asli Korea Selatan. Film ini juga pertama menggunakan aktris tak berpengalaman asli suku Hutu dan Tutsi tentang dirinya.

Munyurangabo mengisahkan Ngabo (penggilan Munyurangabo, seorang Tutsi) bersama Sangwa melakukan perjalanan dari Kaligi. Menuju ke mana tidak begitu jelas. Yang pasti Sangwa dari Hutu sengaja menemani Ngabo balas dendam kepada orang yang telah membunuh ayahnya. Sebelum sampai ke tujuan, atas ajakan Sangwa keduanya mampir ke rumah Sangwa, yang sudah tiga tahun ia tinggalkan.

Di rumah Sangwa, kisah dimulai. Sangwa bermaksud untuk memberitahukan orang tuany kalau dia masih hidup dan akan kembali meneruskan perjalanan. Situasi selalu tak semudah maksud. Ibu Sangwa terlampau kangen. Ia tak izinkan Sangwa pergi. Begitu juga ayahnya. Tak ingin Sangwa Pergi. Ia bisa menjadi lelaki (dewasa) dengan bekerja keras di kampung.

Sangwa minta mengulur waktu untuk meneruskan perjalanan. Ngabo sempat bertahan. Tetapi ia tak sabar. Ia lanjutkan sendiri untuk menunaikan misi. Persahabatan yang mereka bangun di pasar pun retak.

Modal minim pembuatan film ini tak menyurutkan sang sutradara untuk membuat film tetap menarik. Chung misalnya, tak memasukkan satu pun footage mayat. Ia memilih menarasikan masa konflik secara oral. Ia kisahkan melalui Ngabo. Ngabo menceritakan apa yang ia alami pada masa konflik. Katanya, mayat bergelimpangan. Anak-anak terbunuh, bayi di dekapan ibunya yang sudah terlebih dahulu mati. Darah mewarnai sepanjang jalan.

Yang menarik, gambar yang Chung sajikan seperti hendak memperlihatkan kebalikan dari tragedi perang saudara di Rwanda. Ia sajikan kisah mengenai  kematian anak-anak dan ibu-ibu yang sedang menyusui dengan jalanan mulus tapi kosong. Ia gambarkan darah yang membasahi bumi dengan kebun teh yang siap panen.

Ia juga mengisahkan  dan wajah anak-anak di jalanan menuju tempat bercocok tanam. Dan, Cung memilih ibu yang sedang menggendong anaknya untuk menggambarkan kisah ibu Ngabo membakar foto ayahnya agar anaknya (Ngabo) tak mengingat-ingat lagi masa lalu.

Narasi dan gambaran terakhir ini begitu mengesankan. Ibu membakar foto ayah yang sudah mati terbunuh, agar anaknya tak lagi mengingat-ingat masa lalu. Ini pilihan tragis: mencoba menghilangkan ingatan menganai sosoak ayah di benak anaknya agar tak lagi ada kekerasan berikutnya. Toh, usaha ini gagal karena anaknya tetap ingin membalas dendam. Chung memperlihatkan ini sebagai usaha seorang ibu untuk perdamaian, sebuah cara yang tak akan terbayangkan dalam suasana normal.

Narasi lain yang dipakai adalah puisi berjudul Liberation is a Journey. Puisi ditulis Uwayo dan dibacakan dalam bahasa Rwanda. Ia tulis puisi ini untuk mengisi perayaan hari kemerdekaan Rwanda. Di film ini pula, Uwayo membacakan puisinya pertama kali tanpa teks (dihafal). Strategi yang dipakai Chung pada adegan ini menarik. Kamera close up pada wajah Uwayo, dan ia bacakan dengan gaya pembacaan puisi khas Rwanda. Ia membacakannya begitu emosiaonal.

Dalam puisinya, Uwayo berkisah bagaimana masa lalu, konflik dan masa depan Rwanda yang dicita-citakan. Masa lalu dan pada saat konflik, tak banyak berbeda dengan narasi Ngabo. Masa depan yang ia cita-citakanlah yang menarik. Kemampuan baca-tulis dan pendidikan adalah masa depan Rwanda. Ia ingin membangun itu dari keluarganya, yang tak mengizinkan istri bersuara. Ia percaya, visi rakyat Rwanda, termasuk perempuan bisa membuat negaranya menjadi negara yang kuat.

Film ini atas dasar kisah nyata. Artinya nyata belaka kalau orang ingin masa depan lebih baik. Saya selalu heran, kenapa orang masih saja membuyarkan masa depan orang lain? Bagaimana masa depan anak-anak di Transito semakin tidak jelas hanya karena mereka meyakini apa yang tak diyakini orang kebanyakan? Kok tega membakar rumah dan tempat ibadah orang lain, padahal di sana masa depan anak-anak untuk mengaji dan belajar bertumpu, hanya karena ia berkeyakinan Syiah? Orang lain di negeri seberang bersusah payah memperbaiki dan memperoleh haknya, kita di sini masih saja merusak hak orang lain.

Akhirnya, secara gitu saya bukan kritikus, saya tak punya kritik atas film ini. Saya lebih suka merekomendasikan kamu: tontonlah film ini agar tahu betapa kekerasan itu buruk bukan pada kekerasan itu sendiri, tetapi juga dampak setelahnya.

Sumber foto: http://imageshack.us/photo/my-images/189/leeisaacchungmunyuranga.jpg/

Written by Admin

June 4, 2012 at 11:36 am

Posted in resensi

Tagged with , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: