Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Antara Tragedi Sampang dan Perang Unta

leave a comment »


Sebagai umat Islam, saya sangat sedih mendengar tragedi di Sampang beberapa waktu lalu. Kok bisa sesama  penyembah Allah dan sesama umat Rosululloh saling bunuh? Tidakkah Allah dan Rasululloh menjadi pengikat persaudaraan di antara mereka? Nampaknya tidak.

Ingat! membunuh, bahkan kepada penyembah selain Allah dan pengikut umat yang lain sekalipun adalah tragedi besar kemanusiaan.

Keprihatinan (ci elah, udah kayak SBY aja) yang paling mendalam justru, menurut kabar, tragedi Sampang dipicu oleh ketegangan keluarga. Mengapa tega membunuh, membakar rumah dan mengusir saudara sendiri dari tempat kelahiran? Kita butuh penjelasan psikologi untuk pertanyaan tersebut.

Akan tetapi kalau kita telisik, keterlibatan konflik keluarga dalam kasus Sampang rupanya mirip dengan kelahiran Syiah dalam sejarah Islam yang juga melibatkan konflik keluarga. Pesan saya di sini bukan untuk menyimpulkan bahwa setiap konflik Syiah dan non-Syiah selalu melibatkan konflik keluarga. Lebih luas dari itu, buat saya, setiap konflik keagamaan selalu dipicu oleh ketegangan sosial, ekonomi, politik dan budaya yang non-keagamaan.

Mari kita lihat.

***

Kisah ini umum belaka. Siapapun yang pernah mempelajari sejarah Islam akan menemui satu babak di mana sesama pengikut Rasululloh saw saling memusuhi satu sama lain, bahkan saling bunuh. Untuk pertama kalinya, insiden saling bunuh muncul dalam perang Jamal. Perang ini bisa kita hitung mundur dari kematian khalifah Islam ketiga, Utsman bin Affan.

Pasca kematian sayyidina Ustaman, Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah keempat. Sebagai pemimpin baru, imam Ali melakukan restrukturisasi organisasi kekhalifahannya. Salah satunya adalah dengan mengganti sejumlah pejabat pemerintaha khalifah Utsman dengan pejabat baru. Imam Ali mengganti mereka karena mereka umumnya suka foya-foya dan tidak bekerja untuk kepentingan umat.

Kebijakan restrukturisasi lain imam Ali adalah menghapus sejumlah peraturan yang diskriminatif, membatalkan kebijakan khusus untuk kaum Muhajirin, dan penyamarataan hak atas kekayaan Baitul Mal.

Situasi ini melahirkan desas desus dan ketidak-puasan sejumlah sahabat. Mereka di antaranya,  Thalhah, Zubair dan Aisyah. Ketiga orang ini adalah sahabat nabi yang cakap dan penting pada masa itu. [Ingat, Aisyah adalah istri Nabi sesudah ditinggal wafat Siti Khadijah, istri pertamanya. Aisyah dan Ali adalah saudara dekat kangjeng Nabi Muhammad saw.] Ketiganya mengumpulkan pasukan untuk menentang kekhalifahan imam Ali ra.

Terjadilah pertempuran di antara mereka pada 11 Jumadil Akhir 36 Hijriyah. Dalam pertempuran tersebut, pasukan kekhalifah Ali dengan mudah mengalahkan lawannya. Inilah perang yang dikenal sebagai perang jamal (perang unta).

Tahun berikutnya, 37 hijriyah, terjadi kembali perang kedua sesama pengikut kangjeng Rasululloh, yang dikenal sebagai perang Siffin. Perang ini mempertemukan pasukan Muawiyah, kerabat khalifah sebelumnya, imam Utsman bin Affan, dengan pasukan imam Ali. Singkat cerita, ketika pasukan khalifah Ali hampir mengalahkan pasukan Muawiyah, mereka mengajukan perundingan. Dan, hasil akhir perundingan adalah Muawiyah menjadi khalifah berikutnya.

Sejak itulah, para pengikut imam Ali kemudian dikenal sebagai kelompok Syiah. Tak hanya sebagai pengikut Imam Ali dalam pengertian politis, pasca perang saudara tersebut muncul berbagai perdebatan teologi: mana yang paling benar menurut Allah dalam al-Quran dan hadits (waktu itu belum dikodifikasi).

Jadi, ya, dipicu oleh masalah keluarga. Tetapi dalam perkembangannya menjadi konflik teologi di natara kelompok yang berseteru. Ini pula yang terjadi di Sampang.

***

Tragedi Smpang. Tersebab saya belum melakukan penelitian mendalam, di sini saya akan merujuk pada investigasi yang dilakukan oleh Rusdi, bisa dilihat di sini (http://www.p3m.or.id/2012/08/reportasi-kasus-syiah-sampang.html). Simak bagian ini:

Rudy Setiadhi, Kepala Bakesbangpol Pemkab Sampang menjelaskan, kasus pembakaran di Karang Gayam dan Bluuran hanya puncak dari perseteruan panjang antara satu keluarga: Tajul dan Rois. Kali ini yang menjadi akar masalah adalah perempuan. “Bukan cuma satu perempuan, tapi masih ada sembilan perempuan. Halimah itu salah satunya. Dia itu masih anak-anak, masih SD. Rois itu suka kawin cerai, begitulah. Tajul itu tahu kebiasaan Rois, dan Rois tahu isi dapur Syiah,” kata Rudy.

Dia menjelaskan, pihaknya sudah berkali-kali berusaha mendamaikan keduanya, tapi perseteruan terus berlangsung. Beberapa hari setelah Lebaran tahun lalu, keduanya bahkan dipertemukan di ruang kerja Rudy. “Saya bilang ke mereka, ‘Ayolah rukun, tak usah berantam, kalian kan bersaudara’,” kata Rudy.

Rois mengaku tidak tahu persis, penyebab atau pemicu pembakaran rumah-rumah milik saudaranya, di Kamis yang nahas itu. Dia hanya mengatakan, penyebabnya banyak. “Saudara saya Tajul sering mengkhianati perjanjian musyawarah dengan pemerintah dan masyarakat,” katanya.

Terakhir, kata Rois perjanjian itu dibuat di Kecamatan Omben, 17 Desember 2011 atau 12 hari sebelum terjadi pembakaran. Pihak Tajul diwakili oleh Iklil. Isinya berupa pernyataan dari Tajul yang berjanji tidak akan mengadakan aktivitas dakwah demi kemaslahatan umat. Tajul mengonfirmasi surat pernyataan yang dibuat di Kantor Kecamatan Omben sebagai tulisannya, tapi menolak mengakui pernyataan-pernyataan lain karena dianggap rekayasa dan dibuat sepihak oleh orang-orang yang tidak senang kepada dirinya.

Rois akan tetapi tidak menolak, masalah kali ini bisa jadi juga dipicu soal perempuan bernama Halimah yang disebutkan oleh Rudy. Halimah adalah putri Mat Badri. Rois mengaku, perempuan itu telah dipinangnya karena permintaan istrinya Kholifah. Sewaktu dipinang, usia Halimah baru 12 tahun, masih duduk di bangku SD. “Saya sudah tidak mau, tapi istri saya yang meminta agar saya menikahi Halimah,” kata Rois.

Kholifah membenarkan bahwa Halimah sudah dipinang olehnya untuk suaminya. Belakangan, menurut Rois, Tajul meminta dirinya untuk melepaskan Halimah karena mau dinikahi oleh Tajul. “Saya mengalah,” katanya.

Tentu saja cerita Rois dan Kholifah dibantah oleh Tajul, Iklil, dan Mat Badri [orang tua Halimah]. Tajul menjelaskan, Halimah sebetulnya hanya diminta membantu di rumah Rois, bukan dipinang. Karena Rois dikenal sebagai kiai, orang tua Halimah mengizinkan anaknya ikut Rois.

Suatu hari, Tajul didatangi Zainal yang meminta tolong agar meminangkan Halimah untuk Dul Azid, anaknya. Tajul memenuhi keinginan Zainal tersebut dan pinangannya diterima oleh Mat Badri. Karena mengetahui Halimah telah dipinang oleh orang lain, Rois tidak terima dan memanggil Mat Badri, Zainal dan Dul Azid.

Sebelum memenuhi panggilan Rois, tiga orang itu meminta pendapat Tajul: apakah memenuhi panggilan Rois atau tidak. Tajul menyarankan agar tidak memenuhi panggilan Rois, dengan alasan Rois adalah orang yang temperamental dan suka memukul orang. “Saya kuatir mereka dipukul, dan mereka tidak memenuhi panggilan Rois,” kata Tajul.

Kini Halimah tinggal bersama suaminya di Surabaya. Iklil meminta anak perempuan itu tidak usah diekspos, karena kuatir mengganggu sekolahnya.

Dari sini nampak jelas bahwa pemicu utamnya adalah konflik keluaga. Namun, perkembangan selanjutnya memperlihatkan bahwa perseteruan keluarga tersebut menjadi sangat jelas dan mulai membawa keyakinan keagamaan Tajul Muluk. Masalahnya memang perkara sosial biasa, keluarga, tetapi kemudian melibatkan argumen keagamaan untuk mengumpulkan massa pendukung. Tak hanya masalah keluarga, tragedi Sampang juga melibatkan kekuatan politik di sana.

***

Oleh karena itu, jelaslah bahwa tragedi Sampang dan Perang Jamal memiliki beberapa kemiripan: dilatari oleh ketegangan keluarga, politik, ekonomi, kekuasaan, lalu balutan argumen agama melegitimasi kekuatan masing-masing pihak.

Pelajaran pertingnya adalah dalam setiap konflik keagamaan akan selalu ada penjelasan ketegangan non-agama yang melingkupinya. Saya berani katakan demikian karena faktanya di seluruh dunia ini perbedaan keyakinan dan ketegangan keagamaan itu umum belaka. Misalnya, bagi umat Islam umat Kristen itu salah dan akan masuk neraka. Begitu juga sebaliknya. Nah, tapi kan dunia ini aman-aman saja. Konflik di antara keduanya, seperti di Poso atau Ambon beberapa tahun lalu dipicu oleh ketegangan lain, non-agama. Kalau semua perbedaan keagamaan dianggap melahirkan kekerasan, maka sudah sejak lama dunia ini kiamat.

Akan tetapi, pelajaran lainnya, juga jangan sekali-kali mereduksi tragedi seperti di Sampang ini menjadi masalah keluarga belaka, seperti dinyatakan pak Menteri Agama nya presiden SBY. Benar bahwa salah satu pemicunya konflik keluarga, tetapi masalahnya menjadi rumit karena membawa label sesat atas nama aliran keagamaan, Syiah. Dan, pak Menteri Agamalah yang sempat mengucap Syiah kelompok sesat. (Sila simak di sini: http://www.indonesiamedia.com/2012/08/29/sikap-berbahaya-menteri-agama/). Argumen agama bagaimanapun efektif untuk memobilisasi massa dan jika massa sudah dibakar jiwa dan raganya tindak kekerasan bisa meletus kapan saja.

Semoga bermanfaat.

Written by Admin

September 4, 2012 at 8:02 am

Posted in Esai

Tagged with

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: