Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Membuka Mata dengan “Mata Tertutup”

leave a comment »


Aksi serangan teroris masih terjadi. Densus 88 menangkapi sejumlah orang yang diduga terlibat gerakan yang disebut teroris. NII sampai sekarang belum ada kejelasan penanganannya. NII masih menjadi rumor yang membuat tidak nyaman siapapun karena anak atau saudaranya mungkin akan direkrut. Aksi-aksi kelompok radikal semakin berani dan cenderung dibiarkan oleh aparat penegak hukum. Itulah sebabnya, film Mata Tertutup karya Garin Nugroho relevan untuk ditonton dan didiskusikan.

Kesan umum

Cara Garin menyajikan film, saya teringat pada film Berbagi Suami (2008). Kedua-duanya mengisahkan tiga peristiwa yang berbeda dalam satu film. Bedanya, Berbagi Suami memiliki irisan dalam cerita setiap kisah, sementara Mata Tertutup nyaris tidak ada persinggungan satu sama lain. Ketiga kisah dalam Mata Tertutup hanya dihubungkan oleh ide atau isu: problem fundamentalisme radikalisme agama.

Dari segi ide, saya melihat ada kemiripan dengan film Paradise Now. Keduanya sama-sama memotret kisah calon pengantin bom bunuh diri. Dengan cara tersebut, keduanya melihat pelaku teribat karena satu sebab: doktrin Salafi-jihadis. Tetapi keduanya memperlihatkan faktor-faktor lain, yang lebih kompleks, yang memungkinkan pelaku terlibat.

Bedanya, Mata Tertutup tidak hanya berkisah orang yang memutuskan menjadi pengantin bom bunuh diri, tetapi juga melihat kompleksitas orang-orang yang terlibat dalam organisasi eskremis lain, yang level radikalnya di bawah Salafi-jihadis: Negara Islam Indonesia (NII). NII membangun kekuatan untuk menggulingkan pemerintahan dan mengganti dengan sistemnya sendiri, syariat Islam.

Di Persimpangan

Film ini menjadi istimewa karena ketiga tokoh dalam cerita ini berada di persimpangan antara orang “luar” dan “dalam” kelompok radikal. Mereka orang luar yang masuk ke dalam, tetapi tidak dalam-dalam amat. Mereka menjadi bagian dari kelompok radikal, tetapi tingkat keterlibatan ideologisnya tidak kuat.

Aini masuk NII dengan cara diculik dan didoktrinasi ala NII. Tetapi, ia akhirnya melarikan diri untuk kembali ke pangkuan Asimah—Ibu yang tidak kenal lelah mencari anaknya itu. Aini bukan anggota NII yang ideologis. Ia kangen ke pangkuan bundanya.

Rima memutuskan masuk menjadi anggota NII sebagai wujud pencarian jati diri. Di sana ia berdedikasi dan menjadi pengurus teladan organisasi. Ia berhasil mengumpulkan banyak uang untuk organisasi. Namun, ia kecewa. Ia tidak bisa menjabat jabatan tertentu di level elit hanya karena ia berjenis kelamin perempuan. Pada saat yang sama, ia menemui fakta bahwa istri pemimpinnya tidak mendapat perhatian padahal ia tengah hamil tua yang membutuhkan perhatian lebih dari suami. Keyakinan akan kebenaran gerakan NII memudar.

Kisah ketiga, Jabir adalah seorang santri yang diusir karena tidak bisa membayar biaya pesantren lantaran miskin. Ketika mencoba bertahan hidup, ia bertemu seorang ustadz Islamis-Jihadis. Melalui beberapa kali pengajian, Jabir masuk kelompok ini (dan bertemu salah seorang teroris seram (diperankan Garin!). Namun, keputusannya menjadi pengantin bom bunuh diri bukan semata karena doktrin agama, tetapi demi kebahagian ibundanya. Ia hanya bisa membahagiakan ibunya dengan menjadi pengantin bom bunuh diri.

Tokoh-tokoh yang berada di persimpangan ini memudahkan kita melihat kompleksitas keterlibatan seseorang dalam organisasi ekstremis. Doktrin jihadis-fundamentalis penting. Tanpa framing doktrin Islamis-jihadis, seseorang tidak akan pernah bisa masuk ke dalam. Sebagian besar (atau semua?) teroris pernah terlibat dalam gerakan keagamaan yang radikal.

Akan tetapi, doktrin saja tidak cukup untuk menjelaskan keterlibatan mereka. Ada masalah sosial, ekonomi, dan politik yang menjadi prakondisi yang turut mendorong keterlibatan mereka. Rima kecewa dengan ketidakadilan masyarakat akibat pemerintah salah urus. Jabir tertekan oleh kemiskinan yang menimpanya. Pemerintah masih tidak sanggup memberi jawaban kepada mereka. Ada banyak jalan untuk melawan atau mengatasi masalah sosial itu, tapi gerakan radikal ada di sekeliling kita yang siap memberi jawaban ‘pasti‘ untuk mengatasi keresahan tersebut.

Korban

Soal lain, yang menarik perhatian saya adalah siapa korban dalam film ini? Buat saya, semua pada akhirnya menjadi korban. Aini korban NII. Asimah korban NII. Rima korban NII. Jabir korban salafi-jihadis. Namun, bila kita berjarak sedikit, maka semua adalah korban dari ketidak adilan sosial yang belum bisa diatasi oleh pemerintahan kita yang demokratis.

Jika pemerintah bisa menyediakan sekolah berkualitas sekaligus murah (apalagi gratis), Jabir akan punya cerita lain. Jika pemerintah berhasil atasi kemiskinan, Rima barangkali tidak akan memilih NII sebagai tempat mengekpresikan jati dirinya. Jika pemerintah berhasil mengatasi masalah sosial yang lebih besar, maka tidak ada alasan orang untuk bergabung NII. Jika pemerintah tegas terhadap perilaku kelompok radikal yang suka mengekpresikan dengan cara kekerasan, barangkali salafi-jihadis tidak akan punya massa untuk direkrut.

Perempuan

Isu perempuan cukup menonjol, meski tidak menjadi isu utama. Film ini memberi dua kemungkinan bagaimana menggambarkan kelompok yang kita sebut ekstremis-fundamentalis terhadap sosok perempuan.

Pertama, perempuan menjadi kelas dua di dalam organisasi NII. Rima tidak bisa menjadi panglima, betapapun ia punya kemampuan untuk jabatan tersebut. Kita bisa saksikan, istri pemimpin NII bahkan tidak punya uang untuk melahirkan dan mengurusi anak-anaknya. Kedua, perempuan ditempatkan pada tempat paling mulia. Salah satu alasan Jabir mau menjadi pengantin adalah demi mendapat syafaat untuk ibunya. Dia amat marah kepada bapaknya yang memperlakukan ibunya buruk.

Kita bisa mendiskusikan lebih jauh, apakah diposisikan nomor dua berarti tidak dimuliakan? Jika sudah perempuan diposisikan sebagai makhluk yang mulia, apakah dengan sendirinya punya peranan yang sejajar antara laki-laki? Saya jadi teringat Cok Sawitri, fenimis asal Bali, yang meyakini bahwa peran ‘domestik’ perempuan dalam tradisi Bali sama bernilainya dengan peran aki-laki di ruang ‘publik’. Pertanyaan lanjutan: apakah hal ini bisa kita generalisasi terhadap tradisi Islam fundamentalis atau bahkan tradisi keagamaan yang fundamentalistik?

Penutup

Jika anda pencinta film-film Hollywood, butuh usaha lebih keras untuk bisa menikmati film hingga akhir. Film ini lambat dan agak melelahkan. Beruntung, ada tokoh yang suka menyanyikan lagi-lagu zaman kiwari dalam bahasa Jawa. Aktingnya menghibur dan mencairkan suasana. Saya juga merasa terhibur dengan tembang (puji-pujian) dalam bahasa Jawa, walau saya tidak mengerti artinya.

Meski begitu, saya menangkap pesan untuk pemerintah dan masyarakat. Kepada pemerintah, film ini berpesan radikalisme keagamaan itu masalah serius dan ada di hadapan kita. Maka seriuslah dalam menanganinya. Mereka tidak bisa dilihat independen sebagai anggota ormas makar atau pelaku teroris belaka. Mereka memilih jalan itu dalam konteks masalah sosial yang lebih besar seperti masalah pendidikan dan kesejahteraan.

Kepada masyarakat luas, film ini berpesan: jangan menilai anggota NII atau pengantin bom bunuh diri dari kaca mata doktrin radikal atau salafi-jihadis belaka. Kita harus melihatnya dengan kaca mata yang lebih luas. Film ini juga mengingatkan kita bahwa ada variasi di dalam apa yang kita sebut fundamentalisme radikal. Mengenai variasi bermanfaat untuk mengenai bagaimana cara terbaik mengatasi masalah mereka.

Kepada kita semua, film ini berpesan: pahami mereka dengan “mata” terbuka.


[1] Bahan diskusi KOFIKU film Mata Tertutup karya Garin Nugroho, Forum Muda Paramadina (@forummuda), Kamis, 18 Oktober 2012.

Written by Admin

December 6, 2012 at 8:57 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: