Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Nila Setitik pensil, spidol atau koas raksasa?

leave a comment »


Kamu pasti tahu pepatah lama mengatakan “nila setitik, rusak susu sebelanga.” Saya juga tahu. Hanya saja, saya sungguh tidak tahu apa asal mula dan dari mana pepatah lama ini berasal. Saya juga rada malas mencari tahu lebih jauh sejarah pepatah ini.

Sederhananya, pepatah di atas bermakna, kesalahan kecil merusak merusak kebaikan yang telah dibuat sebelumnya. Pepatah ini, menurut saya, baik sekali menggambarkan situasi di mana seseorang bisa rusak reputasinya hanya karena satu kesalah kecil yang pernah dibuatnya.

Namun, bila kita baca lebih dalam, sebetulnya, pepatah ini akan lain kalau kita memasukkan unsur manusia: pelaku nila dan penilainya. Kedua belah pihak: pelaku dan penilai, memiliki tafsir yang berbeda mengenai sebesar apa sih titik yang menyipati nila itu? apakah setitik itu sebesar titik pincil sekolah, sebesar spidol, sebesar koas, atau sebesar spidol raksasa?

Saya duga, orang yang pertama kali menciptakan pepatah ini adalah pelaku. Dia sudah berbuat banyak, memiliki reputasi baik, menjadi rusak nilainya karena melakukan satu dua kesalahan. Bagi dia kesalahan itu tidak seberapa dibanding kebaiknnya selama ini. Seketika dia mengeluarkan keahliannya membuat pepatah ini.

Namun, kalau kita lihat dari perpektif orang di sekelilingnya, yang menilai nila itu, apa yang dianggap setitik bisa merupakan perkara besar.

Mau contoh kongkret: ustad yang korupsi. Kurang apa coba? Dipanggil ustad, ketua partai Islam terbesar, mengabdi untuk umat. Tapi dia ga sadar, dia kira perilaku korupsi itu nila setitik. Di mata dia, mungkin korupsi sapi setitik dibanding pengorbanananya selama ini. Tapi sadarilah, bung, bahwa di mata orang lain korupsi sekecil apapun it is a big deal. Korupsi bukan nila setitik, ini aib terbesar di negara kita saat ini, dan mungkin seterusnya.

Pelajaran yang penting, buat saya, ketika kamu menjadi pelaku nila setitik, sadarilah bahwa ada pandangan orang di sekitarmu yang belum tentu menganggap perbuatanmu itu sebagai nila yang setitik. Jika kamu orang yang sedang memandang perilaku buruk seseorang, dan kamu anggap besar, sila juga lihat sisi baiknya. Toh, manusia itu tempatnya kesalahan dan kebaikan. Tuhan pun maha pengampun.

Insya Allah, dengan begitu, kita dapat berlaku adil sejak dalam pikiran.

Written by Admin

June 5, 2013 at 6:04 am

Posted in Esai

Tagged with , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: