Renungan

"Adil Sejak dalam Pikiran"

Menteri Agama Kurang Piknik

with one comment


Sudah baca berita MetroTvNews soal omongan menteri agama di Semarang, yang hari ini banyak dibicarakan di twitter? Belum. Cari aja di Google, kamu bakal menemukan pikiran seorang menteri yang kurang piknik. Menteri yang kurang piknik ditandai oleh pikiran picik. Belum ngerti juga? Si menteri katakan: solusi terbaik atasi masalah ahmadiyah adalah memberangusnya. Dia merujuk ke Malaysia dan Pakistan sebagai prototipe idel.

Sejatinya dia kurang piknik. Pun piknik, hanya tulang dan daging, bukan hati dan pikiran.

Kalau ingatan kita cukup kuat, sebenarnya omongan menteri yang dipertahankan SBY ini sudah bisa kita tebak. Dari awal dia menjabat sebagai menteri, dia memang berpikiran bahwa untuk menyelesaikan borok di kulit kepala dengan memotong leher. Untuk menyelesaikan masalah Ahmadiyah, bubarkan Ahmadiyah dari Indonesia. Bubarkan organisasinya, berarti larang aktivitasnya. Pilihannya: kalau mau bertahan, “bertobatlah” dan melebur bersama iman kaum mayoritas, atau keluar dan dirikan agama baru.

Pikiran ini sudah lama pula dikritik orang. Logika ini lemah tak terkira. Satu, kunstitusi kita menyatakan bahwa negara wajib melindungi kebebasan setiap warga negara meyakini dan menjalankan ajaran yang diyakini. Perintah konstitusi, negara dalam hal ini aktornya adalah pemerintah, dan spesifik lagi tugas menteri, untuk melindungi mereka. Memberangus berarti mengingkari kewajibannya. Ingkat terhadap konstitusi, ingkar terhadap negara. Artinya, dia melawan negara.

Kedua, menteri menyalahgunakan wewenang. Alih-alih demi kesejahteraan dan keamanan warganya, menteri menggunakan power-nya untuk memperlakukan warga negara secara diskriminatif atas dasar keyakinan pribadinya. Dia itu ditugasi untuk mengatur sedemikian rupa agar warga negara nyaman, temang dan aman menjalankan ajaran agama sebagaimana diyakini. Boro-boro membuat tenang, pernyataannya ini mendorong dan melegitimasi orang untuk mengintimidasi dan menyakiti warga lain lantaran beda keyakinan.

Ketiga, si menteri dari P3 ini lebih perhatian kepada keyakinan daripada perilaku. Jika terjadi konflik atau ketegangan antara kelompok warga sunni dan ahmadi, dia akan komentari keyakinan Ahmadi daripada perilaku orang Sunni yang rusak masjid. Menurutnya, perusakan masjid itu akibat dari keyakinan Ahmadi yang beda dari kebanyakan orang Sunni.

Ini sesat pikir namanya. Perilaku merusak masjid tidak bisa dibebankan kepada keyakinan si pengguna masjidnya. Ya ke pelaku lah. Misalnya, pencuri mencuri barang berharga dan merusak rumah orang yang namanya Surya Dhama. Siapapun  tidak boleh menyalahkan Surya karena sudah jelas dia korban. Apapun motifnya, pencuri harus bertanggung jawab atas tindakannya mencuri. Karenanya, perusak masjid juga harus bertanggungjawab atas kelakukannya merusak majid, sebagaimana si pencuri tadi.

Keempat, soal keyakinan tidak bisa dipaksakan. Hanya Allah yang berhak menghakimi keyakinan mana yang benar dan mana yang salah. Sudah cukup jelas kisah Rasulullah yang tidak bisa mengislamkan pamannya, Abu Thalib. Allah berfirman:innaka la tahdi man ahbabta walakin Allaha yahdi man yasya. Bahkan kangjeng nabi aja tidak bisa memaksakan iman pamannya sendiri. Apalagi keyakinan orang lain. Apalagi memaksanakan dengan wewenang yang dimiliki.

Kritik-kritik di atas sudah sangat banyak dan lama dikirim ke menteri agama yang namanya tidak begitu arab ini. Kritik ini juga jelas tidak mengubah sedikitpun sikapnya. Tapi saya katakan dia kurang piknik setidaknya karena dua alasan.

Alih-alih makin rukun, pernyataan dan pikiran si menteri justru merusak suasana kerukunan. Dia menyarankan “bakar lumbungnya” daripada temukan akar masalahnya. Di Pakistan, asal pak menteri tahu, boro-boro jadi rukun, beragam jenis diskriminasi dan perlakuan buruk, tak manusiawi sampai menghilangkan nyawa orang Ahmadiyah semakin menjadi-jadi. Boro-boro menyelesaikan masalah, malah menjadi masalah baru. Hal ini menunjukkan si menteri kurang piknik otak.

Menteri juga kurang piknik hati. Dia kurang bisa merasakan betapa sulitnya menjadi minoritas, ditindas pula. Dia terlalu sombong dan hatinya beku. Dia tidak punya rasa empati. Dia tidak melihat ahmadi sebagai manusia. Dia sadis: menikmati orang lain, dalam hal ini ahmadi, tersiksa. Semakin ahmadi tersiksa, semakin dia menikmati. Nampaknya demikian. Dia tidak mau mengasah rasa dan hatinya sebagai manusia biasa. Dia perlu piknik hati.

Jika dia anggap menindas Ahmadi bermanfaat untuk partainya yang dikenal partai Islam, luar biasa kurang pikniknya. Jika ingin merepresentasikan Islam dan ingin dilirik rakyat Indonesia, bersikaplah bijaksana terhadap siapapun warga negara. Jika terus terusan eksklusif seperti ini “fantadhirissa’ah”, tunggu waktu kehancurannya. Dan, sebaliknya, PPP harus waspada. Partai Islam berlambang Ka’bah ini sedang digerogoti dari dalam.

Jika ia terus menerus dalam kepompong, tak mau piknik otak dan hati, menteri agama akan terus menjadi bulan-bulanan. Pendekatan otak dan hati sebagai manusia biasa amat perlu jika ia ingin dihargai sebagai manusia baik, bijak dan bajik.

Written by Admin

November 9, 2013 at 12:15 pm

Posted in Esai

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. Penulis ini yg Kurang Piknik.
    “selalu menyatakan minoritas tertindas” BASSI
    – Indo sngat menghargai Pluralitas kepercayaan,
    Namun, Jika dlm satu payung ada hal yg menyeleweng ya perlu di tolak, masak negara diem aja,,
    – ya itulah bukti negara peduli, aliran apa yg harus dipegang & harus di tolak.
    “dah sesat kok masih berspekulasi” sok ilmiah nih,

    Imam Hadi Muslim

    February 2, 2014 at 11:47 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: