Catatan untuk Aa Gym: Beberapa Kekeliruan


Abdullah Gymnastiar (atau biasa dipanggil Aa Gym) adalah satu di antara ustad, yang banyak muncul di televisi, yang saya kagumi. Saya mengagumi cara ia bertutur. Saya merasa bagian darinya sebab logatnya yang sangat Sunda. Dan, setiap kali mendengar ceramahnya, saya merasa, wah ini kuring pisan (saya banget).

Meski begitu, saya sering tidak sependapat dengan isi ceramah Aa Gym. Puncaknya, ketika ia memutuskan berpoligami. Ia katakan, ia ingin memberi contoh poligami ala Rosulullaah. Saya masih bisa menerima logatnya yang sangat Sunda, tapi tidak terhadap gagasan dan perilaku poligami.

Beberapa hari ini, beredar tulisan Aa Gym tentang Ahok. Tutur kata dan urutan kalimatnya enak didengar. Sangat khas Aa Gym. Namun, isi pernyataan tersebut mengandung beberapa kesalahan pikir. Jika tidak jeli, nampak benar. Manakala diperiksa lebih rinci, kita akan menemukan beberapa kelemahan. Saya komentari per paragraf sebagaimana urutan gagasan.

#1

Kalau ada orang muslim dukung ahox karena katanya ahox bisa membangun, maka sampaikanlah pada dia bahwa *firaun bisa membangun mesir menjadi negara gemerlap*, penduduknya hidup makmur tapi fir’aun menistakan Agama Allah, maka Allah hancurkan dia*

Pada kalimat ini, Aa Gym paling tidak membuat dua kesalahan. Pertama, pada zaman Fir’aun, belum ada institusi negara. Pada masa itu, model pemerintahannya masih tradisional: kerajaan. Maka, yang benar: Fir’aun membangun kerajaan, bukan negara.

Ahok tidak membangun kerajaan, tetapi mengelola satu bagian dari negara Indonesia, DKI Jakarta. Ia mengelola satu wilayah tata pemerintahan dari negara Republik Indonesia. Soal gemerlap, Aa Gym mungkin lupa bahwa listrik yang menjadikan Jakarta begitu gemerlap jauh sudah ada sejak sebelum Ahok bahkan menginjakkan kaki di Jakarta.

Soal kemakmuran, nampaknya Aa Gym di sini ada benarnya. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DKI Jakarta paling tinggi se-Indonesia tahun 2015: 78.99, di mana rata-rata nasional 69.55. Indeks ini sudah merupakan penjumlahan dari tiga segi: umur dan hidup sehat; pengetahuan; dan standar hidup layak. DKI Jakarta, dari data ini, paling maju dibanding daerah-daerah lain di Indonesia.

Kesalahan kedua, “Fir’aun menistakan Agama Allah.” Jika Aa Gym berpegang pada ayat al-Quran, inna ad-dina ‘inda Allah al-Islam, (Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam), maka pada masa Fir’aun belum ada agama Allah, yakni Islam. Pada masa itu belum ada al-Quran dan As-sunnah sebagaimana kita kenal saat ini, yang berfungsi menjadi fondasi agama Islam. Maka, kalimat yang benar seharusnya: Fir’aun tidak percaya dengan ajaran yang dibawa kangjeng nabi Musa.

Jalan pikiran di paragraf ini keliru. Karena itu, tak seharusnya Firaun dijadikan ilustrasi untuk menggambarkan Ahok.

#2

Kalau ada orang Muslim dukung ahox karena katanya ahox bisa membuat Jakarta menjadi modern, maka sampaikanlah pada dia bahwa *namrud bisa membangun Messopotamia menjadi negara yang moderen, bangunan menjulang ke atas dengan teknology canggih saat itu. Hanya namrud menistakan Allah, maka Allah hancurkan dia.

Pada paragraf ini, kesalahannya sama dengan kesalahan sebelumnya: Mesopotamia bukan negara melainkan kerajaan. Lalu, istilah “modern” itu, menurut kamus Thesaurus, baru dipakai pada abad 15. Istilah ini menandai cara berpikir yang menekankan pada kemandirian berpikir manusia. Salah satu rumusan paling terkenal masa itu, aku berpikir, maka aku ada. Laku berpikir yang mendasari kesadaran bahwa kita ada.

Anggap saja kita setuju bahwa ke-modern-an ditandai dengan bangunan/gedung tinggi yang dibangun teknologi canggih. Ini sungguh tak cocok dijadikan ilustrasi untuk Ahok. Bangunan tinggi menjulang dan dibangun dengan teknologi canggih bukan khas Ahok. Bangunan menjulang sudah ada bahkan sebelum Ahok lagi-lagi pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta.

Anggap saja Ahok membuat Jakarta jadi lebih moderen. Betul juga sih. Ahok membuat beberapa terobosan, khususnya melalui teknologi informasi dalam ragka keterbkaan atau transparansi. Simak misalnya Jakarta Smart City. Melalui website itu, warga Jakarta bisa ikut mengawasi apa yang dilakukan pemerintah, termasuk di dalamnya penganggaran, pelaksanaan dan pelaporan keuangan.

Ahok juga terkenal dengan terobosan Aplikasi Qlue. Melalui aplikasi ini, warga Jakarta bisa langsung melaporkan masalah-masalah di lingkungannya. Tak hanya laporan, pemerintah cepat tanggap. Aplikasi ini sangat efektif untuk mengerjakan hal-hal yang perlu ditangani cepat.

Kesalahan lainnya, pada pernyataan Aa Gym di pragraf ini, “Namrud menistakan Allah”. Ini kalimat yang tak biasa kita dengar untuk kisah raja yang tak percaya yang dibawa kangjeng nabi Ibrahim ini. Justru sebaliknya, kisah yang sampai kepada kita kangjeng nabi Ibrahim yang mengolok-olok Namrud. Setelah menghancurkan berhala-berhala kecil, kangjeng nabi Ibrahim menyisakkan berhala paling besar dan mengatakan bahwa berhala paling besar itulah pelakunya. Lalu Namrud marah dan menghukum nabi Ibrahim dengan membakar hidup-hidup.

Apakah Ahok sama dengan Namrud? Dua kesalahan pernyataan Aa Gym di atas menunjukkan bahwa ilustrasi tersebut gagal menggambarkan Ahok.

#3

Kalau ada orang Muslim dukung ahox karena katanya ahox bisa menjadikan hidup makmur, maka sampaikanlah pada dia bahwa Bangsa saba’ bisa membangun negerinya menjadi negara yang makmur, bebas korupsi* *Dan kaum saba’ menistakan Agama Allah, maka Allah hancurkan mereka..*

Paragraf ini tingkat kekeliruannya mirip dengan dua paragraf sebelumnya. Namun ada yang menarik. Aa Gym memakai istilah “bebas korupsi”. Maksud Aa di sini pasti bukan bebas melakukan korupsi, tetapi besih dari tindakan korup. Namun, isilah korupsi belum ada pada masa ketika bangsa Saba ada di dunia ini. Kata ini, menurut kamus Thesaurus, baru muncul sekitar pertengahan abad 14.

Meski begitu, ilustrasi ini ada benarnya untuk menggambarkan Ahok. Masih ingat catatan dia di draft anggaran DKI Jakarta yang berbunyi “Pemahaman Nenek Lu!”. Ungkapan ini merupakan kegeraman Ahok pada penganggaran yang tidak efektif dan penuh dengan anggaran siluman. Ia mencegah korupsi sejak dana negara dianggarkan.

Masalah selanjutnya pada paragraf ini adalah bahwa Aa Gym terlanjur mereduksi istilah “menistakan” untuk kesalahan kaum Saba. Padahal, dalam surat Saba ayat 15-17, kesalahan kaum Saba terutama karena mereka tidak mau bersyukur. Allah perintahkan bersyukur, mereka tidak mau. Apakah tidak mau bersyukur adalah tindakan Ahok yang kemudian dianggap menista? Jawabannya bukan. Ilustrasi ini, nyata keliru.

Oh ya, kaum Saba kan dihancurkan melalui banjir bandang. Kira-kira kesalahan warga Bandung apa sehingga terjadi banjir bandang beberapa kali di Bandung? Apakah Gubernur Aher menistakan sesuatu, sebagai pemimpin Jawa Barat? Atau kang Emil juga melakukan dosa besar, layaknya kaum Saba? Eh, Aa Gym juga orang Bandung ya? Apakah Aa Gym melakukan serupa kaum Saba? Saya yakin jawabannya tidak. Banjir bisa dijelaskan dengan tata ruang yang bermasalah. Soal dosa warga Bandung termasuk Aa Gym, jika ada, biarlah Allah yang mengampuninya.

#4

Percayalah orang yang selalu bersama Allah tidak akan pernah kehilangan apa-apa, tapi orang yang kehilangan Allah maka ia akan kehilangan segalanya.

Rumusan kalimat ini, apalagi dibaca dengan logat Sunda, begitu nikmat didengar. Inilah yang di awal tulisan, saya mengagumi Aa Gym. Pada kalimat-kalimat ini, saya turut meyakininya. Sekaipun demikian, saya akan tetap menaruh hormat kepada manusia yang memilih jalan hidup dengan agama dan kepercayaan, yang mungkin tidak seperti kita dalam hal tatacara berteologi, tatacara beribadah, dan tatacara mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Segalanya.

#5

Saya tidak benci dengan orang non muslim dan etnis china, tapi Allah dengan firmannya melarang saya untuk memilihnya sebagai pemimpin apalagi jika mereka berani menista agama kami.

Saya percaya pada sub-kalimat awal, bahwa Aa Gym tidak benci Cina maupun kafir. Suatu kali Aa Gym di televise mengatakan bahwa tidak ada orang yang minta dilahirkan sebagai China, Sunda, atau Jawa. Itu sudah takdir. Pada tingkat tertentu, demikian juga beragama. Pada sub-kalimat berikutnya, soal Aa Gym dilarang memilihnya, saya juga tidak ragu. kan Aa Gym bukan ber-KTP Jakarta, tapi Bandung. Bukan saja keyakinan agama, secara administratif juga tidak boleh milih. Kalau berani-berani memilih di Jakarta, suara Aa Gym jelas tak berguna.

#6

Saya tidak ingin berdebat dengan Anda yang mendukung mereka, apalagi jika Anda yang orang islam. Bagaimana saya bisa meyakinkan Anda, sedangkan Firman Allah saja anda tidak yakini dan Anda abaikan. *Aa Gym

Pada paragraf terakhir, kesalahan Aa Gym terletak pada: seakan-akan penafsiran ayat 51 surat Almaidah tunggal, bahwa dilarang memilih non Muslim sebagai pemimpin. Padahal ada banyak tafsir atas ayat tersebut dan mungkin saja berbeda dengan tafsir Aa Gym. Memegang pada tafsir yang berbeda dengan tafsir Aa Gym, tidak sama artinya dengan tidak meyakini ayat-ayat Allah.

Soal ini, saya agak heran, kenapa Aa Gym tidak menggunakan ayat ini untuk dan mengajak banyak orang demonstrasi kepada Timnas sepakbola Indonesia yang dipimpin (kapten) seorang Kristen dan pelatihnya non-Islam? Apakah ayat ini hanya berlaku untuk pilkada Jakarta, khususnya Ahok? Jika ya, sulit bagi saya untuk sependapat dengan tafsir, sekali lagi TAFSIR, Aa Gym mengenai ayat tersebut.

Terakhir, saya sangat sadar bahwa catatan ini bukan pikiran untuk mendebat Aa Gym. Seperti kata Cita Citata, “aku mah apa atuh?” Catatan ini sekedar mengungkapkan unek-unek. Saya merasa terganggu dengan beberapa kesalahan logis pada pernyataan pendek Aa Gym yang beredar luas di masyarakat. Di luar itu, saya tetaplah pengagum Aa Gym. Saya selalu menantikan ceramah Aa di tv. Aa Gym sungguh enak didengar, apalagi dengan logat Sundanya. Sungguh saya rindukan ceramahnya.

Advertisements

8 thoughts on “Catatan untuk Aa Gym: Beberapa Kekeliruan

  1. No body perfect, hargailah ulama, jk anda jd beliau blm tentu tdk keliru, itupun kalau mmg pandangan anda ‘benar’. Jgn lupa istighfar sebelum ataupun sesudah mengkritik. Wallahu A’lam

    1. Terima kasih atas komentarnya. Mengkritik adalah salah satu cara menghargai ulama. Dan, saya mengusahakan sesopan dan sesantun mungkin. Mudah-mudahan ini termasuk dari “billati hiya ahsan”.

  2. Maap admin. Kya pemaham agama anda madih dangkal. Setau saya. Semua utusan2 Allah sebelum rasullullah itu beragam islam. Hanya saja sekarang sudah dicemari oleh orang2 ug punya kepentingan. Kecuali islam yg masih terjaga kemurniannya Sampai hari akhir. Nabi isa as yg disebut “yesus” sma orng kristen membawa kitab injil, beliau dari yahudi. Tp knp sekarang injil yg dipake yg berasal dari yunani ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s