Sisi Gelap Demokrasi: Kekerasan Masyarakat Madani di Indonesia

Buku baru

Salah satu capaian penting reformasi di Indonesia adalah tumbuhnya masyarakat madani (civil society) yang kuat. Namun, beberapa di antara organisasi masyarakat madani yang paling efektif dewasa ini justru adalah kelompok-kelompok Islamis garis-keras yang mendakwahkan intoleransi dan menyebarluaskan kebencian.

Di beberapa wilayah, seperti Jawa Barat dan seputar Jakarta, organisasi-organisasi ini terbukti amat memengaruhi agenda kebijakan publik, dengan mendesak pemerintah—baik di tingkat lokal maupun nasional—untuk menerapkan pandangan mereka mengenai moralitas dan pemahaman mereka mengenai ortodoksi. Meskipun mengusung agenda-agenda yang antidemokrasi, semua organisasi di atas justru memanfaatkan ruang-ruang bebas yang disediakan demokrasi.

Pertanyaannya, apakah organisasi-organisasi itu tumbuh berjalan seiring dengan meningkatnya konservatisme sosial masyakarat Indonesia, atau karena koneksi-koneksi politik tingkat tinggi yang kuat? Mengapa mereka tampak lebih efektif dalam advokasi mereka dibanding organisasi-organisasi lainnya? Bagaimana demokrasi mengatasi kekuatan-kekuatan anti-demokrasi yang menggerogotinya itu?

Bermula dari Nurcholish Madjid Memorial Lecture (NMML) VII (2013), di buku ini Sidney Jones menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dari perspektif teori gerakan sosial. Dia juga mengevaluasi berbagai tawaran yang sudah diajukan untuk “mengatasi” organisasi-organisasi di atas dan memperkuat pluralisme seperti yang pernah disuarakan almarhum Nurcholish Madjid.

Aspek-aspek tersebut dibahas lebih lanjut dari berbagai sudut pandang oleh para penanggapnya: Elga Sarapung, M. Najib Azca, Jeremy Menchik, Sana Jaffrey, Titik Firawati, dan Zainal Abidin Bagir. Semuanya menyajikan persoalan dan tantangan yang tidak mudah, namun tetap menjaga harapan akan perubahan dan perbaikan demokrasi dan masyarakat madani.

Buku ini perlu dibaca oleh para pengambil kebijakan, akademisi, aktivis sosial dan siapa pun yang merasa peduli dengan masa depan demokrasi Indonesia.

Buku bisa diundah melalui: https://paramadina-pusad.or.id

Advertisements

Tentang Zoroaster

Kepercayaan akan yang metafisik menjadi tema penting dalam setiap peradaban manusia, yang kemudian terinstitusi dalam agama. Sejak manusia primitif hingga modern (bahkan posmodern[?]), dari ujung Timur hingga ujung Barat, agama tetap bertahan sebagai tema penting dalam menghadapi persoalan-persoalan ummat manusia.

Kehadiran agama dalam sejarahnya menjadi jawaban atas ketidakmampuan manusia menghadapi alam. Walaupun, dalam pemikiran yang paling mutakhir, ada semacam upaya para pemikir menghindari dari yang metafisik karena ia menjadi sumber dehumanisasi. Kenyataannya, konsep yang absolut tidak mau beranjak dari pemikir yang paling sekuler sekalipun. Continue reading “Tentang Zoroaster”

Kala Waratawan Berdusta

Shattered Glass berbicara tentang wartawan malas. Film yang diracik oleh Billy Ray ini memangi sekitar 10 dan 17 kali menjadi nominator di berbagai ajang festival film, termasuk Golden Globe tahun 2004.

Film ini berangkat dari kisah nyata. Stephen Glass (Hayden Cristensen) seorang penulis berbakat dari Washington D.C. Di usia 20 tahun, ia menjadi penulis tetap di “The New Republic” (1995-1998). The New Republic adalah majalah yang dibaca oleh awak pesawat kepresidenan. Presiden Amerika mesti membaca artikel-artikel majalah tersebut.

Setiap kali rapat redaksi, ia selalu memukau. Glass mempresentasikan rencana tulisan di depan semua awak redaksi. Dan, semua tampak puas dengan temuan-temuan Glass di lapangan. Ia selalu mendapat sisi lain dari peristiwa yang dia tulis. Setiap kali menulis, sumber berita sudah ia catat terlebih dahulu. Catatan-catatan itulah yang kemudian menjadi sumber dari fakta yang ia angkat dalam tulisannya. Continue reading “Kala Waratawan Berdusta”