Perempuan, Agen Perdamaian?

Umumnya, banyak dari kita yang meyakini bahwa kekerasan identik kepada laki-laki dan kelembutan dengan perempuan. Jika laki-laki agresif, maka perempuan pasifis. Persepsi ini diyakini karena sejarah menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering menjadi penyulut perang, sementara perempuan berteriak untuk menghentikannya. Di medan perang sekalipun, perempuan umumnya bertugas mengobati atau menyembuhkan dan mengupayakan korban agar tetap hidup.

Continue reading “Perempuan, Agen Perdamaian?”

Advertisements

Kontroversi Pendirian Gereja di Jakarta

Problem pendirian gereja sudah lama menjadi duri dalam daging hubungan antarumat beragama di Indonesia. Berbagai rezim pemerintahan berganti, aturan pun direvisi, namun persoalan ini tak pernah selesai. Yang mengkhawatirkan adalah ketegangan sosial yang kerap ditimbulkannya, bahkan menjadi kekerasan. Setelah era Reformasi, upaya baik pemerintah lewat Peraturan Bersama Menteri (2006) dan pendirian Forum Kerukunan Umat Beragama, juga tetap belum dapat menyelesaikan persoalan ini. Ada banyak faktor lain yang perlu ditelisik lebih teliti. Continue reading “Kontroversi Pendirian Gereja di Jakarta”

Pola-pola Konflik Keagamaan

Oleh Tim Yayasan Paramadina dan MPRK-UGM

Awal tahun ini, Yayasan Paramadina dan Magister Perdamaian Resolusi Konflik (MPRK-UGM) melakukan penelitian mengenai pola konflik keagamaan di Indonesia 1990-2008. Penelitian ini memperlihatkan pola dan model konflik keagamaan yang ada di Indonesia di tiga periode: periode orde baru (1990-1998), periode transisi (1998-2004), dan periode konsolidasi demokrasi (2004-2008). Saya yakin hasil penelitian ini sangat berguna bagi kita yang akan mengadvokasi perdamaian di Indonesia. Bagi Anda yang berkepentingan, silakan unduh. Continue reading “Pola-pola Konflik Keagamaan”