Ulang Tahun-mu: Terima Kasih, Yank!

Dan, catatan ini hanya sejauh kuingat. Kau mungkin dapat mengingatnya lebih baik. dan kira-kira seperti itulah Umi melahirkanmu 25 tahun yang lalu. Tak banyak anak mengenang saat-saat dia lahir di dunia, tetapi setiap ibu pasti mengenangnya.

___________________

Reading time: 2-3 minute

Continue reading “Ulang Tahun-mu: Terima Kasih, Yank!”

Advertisements

Kangen Bapak

Mata menatap tajam pada helai demi helai, kata demi kata berjalan di bola mata. dering HP memecah sunyi, “Bapak meninggal”, Innalillahi wainna ilaihi rajium. mata tak dapat mengeja kata, mata tak bermata, kata tak berkata, daun telinga tak terima suara, hening. “ah..memang sudah suratan takdir”, “ada bernafas, ada berbatas” “tak ada yang abadi” kata Ariel Peterpen. ya..siapa sangkal, tak. entah angin, entah air, entah suara, entah api naga, kirim bunga berwarna-warni tak bunyi tapi nyaring, tak nyata tapi terasa, tak bicara tapi berkata, kangen Bapak.

Surat

Melalui surat ini, a titipkan detik pagi dalam gumam mentari. Tak banyak yang ingin a ungkap, hanya setetes embun pohon jati yang tumbang senja lalu. Tak henti-hentinya a rasakan  rintik hujan menampar patahannya.

Surat ini sebagai tanda bukti kasih sayang pengemis pada anaknya. Anak malang yang terpenjara di hutan tak bertuan. Maukah kau menjadi anak panah arjuna yang menembus jantung waktunya?

Sekian surat ngaco ini. Semoga matahari masih muncul di timur dan kembali ke timur. Menatapmu di lorong waktu yang hampir pagi.