Anda Pengunjung ke...

  • 28,485
February 2015
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Follow me on Twitter

Memahami Kembali Arti Keragaman

Saya lagi bongkar-bongkar dokumen di website. Saya menemukan tulisanku yang terbit tahun 2010 versi pdf.

Abstraknya demikian: “Dalam hidup berbangsa dan bernegara, keragaman memiliki akar mendalam berdasarkan keterbatasan pada pengetahuan, penginderaan, akal dan komunikasi bahasa. Keterbatasan ini dalam interaksi sosial melahirkan pengelompokan-pengelompokan dalam masyarakat sebagai identitas. Sayangnya konstelasi antar identitas tidak hanya melahirkan kerjasama tetapi seringkali berbuntut kekerasan dan menelan korban. Konstelasi yang tidak menguntungkan ini umumnya dalam masa transisi, negara masih berkonsentrasi memperbaiki mekanisme menuju sistem demokrasi yang adil, transparan dan terbuka.

Yang menjadi pertanyaan kemudian, kenapa pengetahuan tentang keragaman yang diajarkan di sekolah tidak berbanding lurus dengan harmoni sosial? Kenapa kita lebih sering memaknai keragaman atau pluralitas sebagai ancaman ketimbang rahmat? Lalu bagaimana mengelola  keragaman agar kehidupan sosial kita tetap harmoni dan menjadi sumber kekuatan di mata dunia?

Versi online juga sudah saya posting di blog ini. Saya sediakan versi pdf siapa tahu lebih suka baca di pdf.

Artikel bisa anda unduh di sini

Demi Melindungi Umat Beragama

Menteri agama Lukman Hakim Saifuddin tengah menyusun draf Rancangan Undang-Undang Perlindungan Umat Beragama. Rancangan ini, menurut dia, merupakan hasil konsultasi dengan berbagai elemen masyarakat. Ia berharap regulasi baru ini menjadi landasan pemerintah dalam melindungi warga, baik mayoritas maupun minoritas, saat menjalankan ajaran agama dan keyakinannya.

Niat di balik pembuat UU baru ini baik. Namun jika tidak berhati-hati, UU baru ini bisa berdampak buruk, malah cenderung sia-sia. Paling tidak, ada tiga alasan untuk pendapat ini. (more…)

Tantangan Menteri Lukman

Presiden Jokowi memilih Lukman Hakim Saifudin sebagai Menteri Agama. Menurut Jokowi, Lukman pekerja keras, tekun dan terbukti melakukan banyak perubahan. Kabinet Kerja memang butuh sosok demikian, karena masalah yang dihadapi tidak ringan: konflik berbasis sekte keagamaan dan pendirian tempat ibadah.

Kualitas konflik keduanya meningkat beberapa tahun terakhir. Konflik sektarian yang semula menimpa kelompok kecil, seperti al-Qiyadah, kini melebar ke jemaah Ahmadiyah dan Syi’ah yang lebih besar. Sementara itu, ketegangan pendirian tempat ibadah, dalam hal ini masjid, kini terjadi di wilayah timur akibat konflik pendirian gereja di Jawa tidak tuntas. (more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,569 other followers