Catatan untuk Aa Gym: Beberapa Kekeliruan

Abdullah Gymnastiar (atau biasa dipanggil Aa Gym) adalah satu di antara ustad, yang banyak muncul di televisi, yang saya kagumi. Saya mengagumi cara ia bertutur. Saya merasa bagian darinya sebab logatnya yang sangat Sunda. Dan, setiap kali mendengar ceramahnya, saya merasa, wah ini kuring pisan (saya banget).

Meski begitu, saya sering tidak sependapat dengan isi ceramah Aa Gym. Puncaknya, ketika ia memutuskan berpoligami. Ia katakan, ia ingin memberi contoh poligami ala Rosulullaah. Saya masih bisa menerima logatnya yang sangat Sunda, tapi tidak terhadap gagasan dan perilaku poligami. Continue reading “Catatan untuk Aa Gym: Beberapa Kekeliruan”

Advertisements

Ketika Konstituen Melebihi Konstitusi

“Pegangan saya ayat-ayat konstitusi bukan ayatayat kitab suci,” demikian ungkapan terkenal Ahok, Gubernur Jakarta saat ini. Ungkapan ini berkebalikan jika membaca Surat Edaran tentang Himbauan Pelarangaan perayaan Asyuro (Hari Raya Kaum Syiah) di Kota Bogor tertanggal 22/10/2015. Alih-alih konstitusi, Surat Edaran ini merefleksikan kepatuhan kepada konstituen, yang intoleran, daripada konstitusi sebagai dasar negara.

Kenapa surat ini perlu dipermasalahkan? Kesalahannya terlalu gamblang: Walikota melarang warga negara merayakan hari yang bagi mereka penting dan sakral. Warga negara yang dimaksud adalah penganut ajaran Syiah. Mereka dilarang melakukan dua hal: memperingati Asyuro dan memobilisasi massa untuk kegiatan tersebut. Continue reading “Ketika Konstituen Melebihi Konstitusi”

Menteri Agama dan Kebhinekaan

Koran Tempo, 14/07/2015

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengumumkan hasil survei evaluasi kinerja pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla pada 9 Juli lalu. Kinerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menurut survei itu, menempati peringkat kedua terbaik setelah Menteri Kelautan.

Temuan ini menunjukkan, betapa pun kontroversial, kebijakan Menteri Lukman mendapat dukungan masyarakat. Ini kabar baik. Sembari merayakan, kita menanti kebijakan berani politikus PPP ini untuk menuntaskan kasus-kasus bernuansa agama dan keyakinan di Indonesia.

Jika kita tengok lagi keputusan-keputusan Menteri Lukman, ada harapan kasus-kasus konflik bernuansa agama bisa diselesaikan. Continue reading “Menteri Agama dan Kebhinekaan”